(Sebuah Studi Analitik Deskriptif)
“Ketahuilah Allah adalah sumber dari segala sumber kebaikan, karena ia adalah wajib al-wujud yang mewujudkan eksistensi mumkin al-wujud, dari keburukan menjadi kebaikan, yaitu dari tiada (‘adam) menjadi ada (wujud). Dan ketahuilah bahwa tidak ada dzulmah yang lebih berat daripada ketiadaan” (Al-Ghazali)
Prolog
Kebaikan dan keburukan adalah sebentuk tatanan nilai yang digunakan sebagai piranti bagi manusia dalam menentukan perbuatannya. Rumusan tatanan ini, berlaku sebagai parameter manusia dalam memandang Tuhan, alam, dan dirinya sendiri. Sebelum melakukan aksinya (yang mengandung baik-buruk) di dunia nyata, manusia dituntut untuk memahami terlebih dahulu bentuk-bentuk teoritis dari kebaikan dan keburukan itu sendiri. Sebab, kebaikan dan keburukan adalah basis epistemologis dari satu kerangka utuh bangunan hukum moral yang akan kita lakukan. Tanpa adanya nilai-nilai baik-buruk manusia tidak dapat membedakan perbuatannya, apakah bernilai positif sehingga layak diganjar pahala, ataukah negatif yang mengharuskannya mendapatkan dosa. Jadi, secara singkat dapat kita pahami bahwa kebaikan dan keburukan adalah aspek teoritis dari apa yang kita kenal dengan etika, pada ranah praksisnya.
