Manusia adalah makhluk multidimensional. Sebagai produk sejarah, manusia adalah makhluk yang lahir, berkembang, berketurunan, berkebudayaan dan kemudian mempunyai sejarah. Manusia juga makhluk materialis, sebab ia terikat oleh hukum-hukum yang berkenaan dengan materi. Sama seperti benda-benda material lainnya, manusia terkenai gaya gravitasi bumi, hukum kekekalan energi, hukum kausalitas dan sebagainya. Namun demikian, menurut Plato manusia ternyata juga makhluk spiritual, yang selalu rindu akan realitas adi kodrati. Meskipun raga wadagnya terkungkung dunia material namun jiwanya acap terbang ke alam transendental. Manusia menurut Aristoteles adalah makhluk yang berpikir (animal rationale). Ia adalah makhluk yang berbahasa (animal loquens), seru Louis Leahy, Makhluk pertanda (animal symbolicum) kata Ernst Cassirer, Makhluk yang berkehendak (volo/aku ingin) ujar Mains de Biran.
Banyak definisi lain yang muncul untuk merumuskan karakteristik khas dari makhluk bernama manusia. Ia adalah an ethical being, an aestethical being, a metaphysical being, dan a religious being. Manusia berwajah plural. Sebagai makhluk etis ia dihadapkan pada persoalan baik-buruk, dan moralitas yang layak-tak layak. Dari sisi estetika, manusia diklaim sanggup mengenali entitas indah-buruk, bernilai rendah-tinggi. Sekalipun mempunyai dimensi material, ia sekaligus juga makhluk religius, dimana realitas tertinggi selalu menjadi terminal terakhir dari perjalanan hidupnya.
