Pendahuluan
Islam
pada masa kerajaan Mughal adalah negeri yang melimpah dengan hasil pertanian.
Kekayaan alam yang demikian besar inilah kemudian mengundang bangsa-banga Eropa
untuk melakukan transaksi perdagangan. Di awal abad ke-17, tepatnya pada tahun
1611, Inggris melalui kongsi dagangnya British East Indian Company (BEIC)
mendapatkan izin dari penguasa Mughal untuk berdagang di sana. Tak berapa lama,
Belanda juga mendapat izin yang sama pada tahun 1617.
Awal
abad ke-18, Kerajaan Mughal mulai memasuki era kemunduran. Perang saudara
diantara pembesar kerajaan seringkali terjadi. Persatuan umat Islam yang
tadinya terbina baik menjadi terbelah akibat ketegangan politik yang semakin
meruncing. Dalam keadaan seperti ini, golongan Hindu yang sebelumnya di bawah
kekuasaan Dinasti Mughal mengadakan pemberontakan berusaha melepaskan diri.
Golongan Sikh di India Utara mengobarkan pemberontakan dari kekuasaan Mughal.
Di bawah pimpinan Banda, golongan Sikh berhasil merebut kota Sadhaura. Golongan
Maratha di bawah pimpinan Baji Rao juga berhasil merampas Gujarat dan membunuhi
penduduk Muslim yang mereka temui. Daerah kekuasaan Kerajaan Mughal semakin lama
semakin berkurang.[1]
Keadaan
chaos demikian dimanfaatkan oleh
Inggris untuk semakin menancapkan kekuasaannya di India. Setelah beberapa lama
menghimpun kekuatan, Inggris mulai berusaha menguasai wilayah India bagian
Timur. Pada pertempuran Plassey tahun 1757, Penguasa-penguasa lokal berusaha
memberikan perlawanan kepada Inggris, namun akibat kalah teknologi
persenjataan, akhirnya wilayah-wilayah Oudh, Bengal, dan Orissa, jatuh ke
tangan Inggris. Semakin memperoleh angin, Inggris bahkan memperluas kekuasaannya
dan berhasil menaklukkan ibukota kerajaan Mughal, Delhi pada tahun 1857.
Terusirnya Raja terakhir Mughal dari istana di Delhi, menandakan berakhirnya
era Dinasti Mughal, dan dimulainya era pemerintahan kolonial Inggris di anak
Benua India. Pada tahun 1879, Inggris berusaha menguasai Afghanistan. Kemudian
tahun 1899, Kesultanan Muslim Baluchistan berhasil dikalahkan. Wilayah tersebut
kemudian disatukan dengan wilayah kolonial Inggris di India.[2]
Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, Kaum
Muslim India dihadapkan pada berbagai macam persoalan. Konflik sektarian,
kemiskinan, moral rendah masyarakat, kurangnya pemahaman mengenai al-Quran, dan
kebodohan dalam Islam menjadi masalah pelik yang sulit diselesaikan. serta
konflik politik yang berlaku situasi. Periode disintegrasi politik tersebut
diikuti juga merosotnya nilai-nilai agama Islam. Nasib menyedihkan kaum
Muslimin pada periode ini memantik kalangan umat Islam terpelajar dan memiliki
hati nurani untuk memulai gerakan kebangkitan kembali Islam di India. Ada dua
arah gerakan yang mereka pilih, yaitu melalui jalur pendidikan dan sebagian
lain memilih lewat gerakan perlawanan politik.
Dua gerakan ini bermaksud untuk membendung kekuasaan
komunitas Sikh, Maratha, dan penguasa Inggris yang terus berkembang. Selain itu
mereka berupaya memberi inspirasi pada umat Islam dengan cara memberi mereka
pengetahuan sejati al-Qur'an dan Sunnah yang memungkinkan mereka untuk
mengingat khazanah berharga yang hilang dan kembali ke kultur dan tradisi
mereka. Pemimpin dari gerakan ini adalah Maulana Shah Waliullah.
Biografi Shah Waliullah
(1703-1762)
Nama lengkap Nya Shah Waliullah Qutbuddin Ahmad dan dia
lahir di Phulat, sebuah kota di Muzaffarnagar , Uttar Pradesh , India pada
tanggal 21 Februari 1703. Shah Waliullah adalah keturunan dari suku Arab
Quraisy. Dari pihak ayah silsilahnya
dapat ditelusuri sampai kepada khalifah kedua Islam, Umar . Ayahnya, Shah Abdur
Rahim , menamai anaknya Qutbuddin Ahmad. Dia dijuluki sebagai 'Shah Waliullah'
yang berarti "sahabat Allah", karena kesalehan yang ia miliki. Dia
adalah pengikut dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dan penganut mazhab fikih
Hanafi. Konon dia juga merupakan
keturunan Ulama besar India Mujaddid Alfi Sani Syeikh Ahmad Sirhindi. Banyak kalangan
genius lahir dari keluarga ini yang merupakan para Ulama dan tokoh Sufi dan yang
telah mewarnai kehidupan Islami Muslim India.
Dia seorang yang cerdas. Di masa muda dia belajar pada
ayahnya di Madrasah Rahimiyya dan kemudian pada banyak sarjana Delhi. Dia
memulai studinya di usia lima tahun dan menyelesaikan bacaan dan hafalan dari Al-Qur'an
pada usia tujuh.Setelah itu, ia memulai pelajaran dasar di Persia dan Arab ,
yang diselesaikan dalam setahun. Kemudian, ia mempelajari tata bahasadan
sintaks dari Persia dan Arab. Ia menyelesaikan studinya di filsafat dan teologi
pada usia lima belas. Dia belajar sastra
Arab dan Persia dan juga mempelajari ilmu sosial dengan mengkaji Sejarah
Dunia-nya Ibnu Khaldun termasuk juga mempelajari politik. Inilah mengapa,
kendatipun dia seorang sarjana dan ulama konservatif besar, tulisan-tulisannya
mengandung gagasan politik segar dan pandangan tajam dalam menganalisa problema
politik India dan dunia Islam. Setelah itu, ia dilantik sebagai guru pembimbing
umat melalui tradisi bay'at oleh ayahnya, ia diijinkan untuk memberikan
bimbingan rohani untuk sesama Muslim selain juga menjadi seorang ahli Hadits.
Pada saat kematian ayahnya, Shah Waliullah berusia 17 tahun dan menggantikan
ayahnya sebagai pengajar di madrasah Rahimiyah. Dia menjadikan madrasah
Rahimiya itu menjadi institusi ideal dengan pengajaran yang berdedikasi dan
sistem pendidikan yang direformasi. Dia memegang posisi ini selama dua belas
tahun.
Kemudian, pada 1731, Shah Waliullah melakukan Haji . Dia
mencapai Makkah pada 21 Mei dan melakukanhaji , setelah itu ia melanjutkan
perjalanan ke Madinah . Di sana, ia menghadiri majelis hadist yang diampu
Syaikh Abu Tahir Muhammad bin Ibrahim Kurdi Madani. Shah Waliullah juga
mempelajari Kutub al-Sittah, dan Muwatta’ Imam Malik, . Setelah itu, ia kembali
ke Makkah , dan kembali melakukan Haji. Di Mekkah, ia kembali mempelajari Al-Muwatta Imam Malik untuk kedua
kalinya di bawah bimbingan Shaikh Wafadullah Maliki Makki , dan menghadiri
majelis Kutub al-Sittah Syaikh Tajuddin Hanafi Qala'i Makki. Kemudian, ia
diijinkan untuk mengajar semua kitabs dari hadits oleh Syaikh Tajuddin.Setelah
itu, Shah Waliullah kembali ke India . Perjalanan kembali ke India berlangsung
enam bulan dan ia mencapai Delhi pada tanggal 1 Januari 1733.
Sekembalinya ke Delhi , ia memulai pekerjaannya sebagai
pengajar dengan sungguh-sungguh. Ini terjadi pada periode ketika umat Islam di
India sedang melewati fase paling kritis dari sejarah mereka. Seluruh tatanan
sosial, struktur politik, ekonomi dan spiritual masyarakat Muslim India hancur
berkeping-keping. Setibanya di Delhi, ia mulai mengajar murid-muridnya berbagai
pengetahuan Islam. Misinya adalah memberi mereka pencerahan akan ajaran sejati
Islam. Dia memulai pada tugas karya authoring standar pada Islam dan mampu
menyelesaikan sejumlah karya tentang Islam.
Shah Waliullah naik menjadi ulama terkemuka dari studi
Islam . Ia adalah tokoh intelektual terkemuka yang memiliki misi mereformasi
umat Islam yang dilihatnya telah jauh meninggalkan agama mereka. Kegiatannya
tidak terbatas pada bidang spiritual dan intelektual saja. Ia hidup di masa
sulit dan menyaksikan sejumlah pergolakan politik dan pergantian kekuasaan di
Delhi. Dengan wawasan yang tajam politiknya, ia mengamati kerusakan kekuasaan
Islam di India dan menulis kepada sejumlah tokoh politik untuk mencoba untuk
meningkatkan kehidupan politik umat Islam di India. Dia mendirikan beberapa
cabang Madrasah Rahimiyah di Delhi agar dapat secara efektif menyebarkan
pengetahuannya.
Pada tahun 1737 dia menterjemah Quran ke bahasa Persia
untuk pertama kalinya di India. Karena hal ini para Ulama Delhi berkampanye
menentangnya dan dia terpaksa meninggalkan Delhi untuk sementara. Putranya,
Abdul Qodir, menterjemah Quran ke Urdu untuk pertama kali di India. Berdasarkan
terjemahan Urdu inilah Girish Chandra Sen dari Bengal menterjemahkan Quran ke
bahasa Bengal untuk pertama kalinya.
Tetapi Shah Waliullah tidak lupa pada situasi politik yang
sedang terjadi di sekitarnya. Dinasti Mughal kehilangan kendali mereka dengan
cepat, kelompok Sikh, Maratha, dll mulai bangkit, sedang Inggris dan Prancis
mulai menanamkan kekuatannya - semua ini membuatnya tidak tenang. Dia khususnya
merasa malu melihat kejatuhan Muslim secara politis, agama dan sosial, dan
karenanya dia berpidato dan berceramah untuk mendorong Muslim melakukan jihad
sebagai bangsa yang bermartabat. Dua dari bukunya yang penting dalam hal ini
yaitu 'Fuyuz al-Haramayn' (Kemenangan
Makkah dan Madinah) dan 'Tafhima
al-Ilahiya' (Memahami Tuhan) adalah buah karyanya hasil refleksi
keprihatinannya terhadap nasib umat Islam yang menyedihkan.
Ide-idenya yang
berapi-api inilah yang kemudian memberi inspirasi, ketika sejumlah reformis
Muslim tampil di India untuk mengingatkan umat Islam untuk berjuang menentang
kejahatan. Dia sepakat atas kepedulian kalangan Wahabi dari Saudi Arabia untuk
membasmi segala bentuk bid'ah dan tradisi Hindu yang mengakar di kalangan
Muslim. Pada waktu itu tidak ada figur yang seperti dia, yang dapat mengajak
umat Islam dengan memberi penafsiran Quran dan Hadits secara benar. Dia
memberikan penjelasan tentang jihad dan mengilhami umat Islam seluruh India
untuk berjuang menentang kejahatan dan penindas.
Pemikiran
Syah Waliullah
Pemikiran Syah Waliyullah amat berpengaruh lama dunia
Islam. Di India sendiri, pengaruhnya disebarkan menerusi murid dan
anak-anaknya, terutama anak sulungnya, Syah Abdul Aziz. Shah Waliullah
mengikuti tradisi Al-Ghazali dan Imam Shatibi dalam mengkombinasikan esensi
Syariah, pengertiannya, perkembangan dan interpretasinya pada isu-isu dan
berbagai problema kehidupan. Dia sebagaimana Al-Ghazali menggunakan akhirat
sebagai poin penjelasan atas hubungan antara eksistensi duniawi dan Akhirat. Bagi
Waliullah, urusan dunia tidak dapat disepelekan begitu saja, akan tetapi harus
diseimbangkan dengan akhirat. Mengikuti al-Ghazali, dunia ditempatkan sebagai
jalan (wasilah) menuju akhirat.
Mengamini pendapat al-Shatibi, Waliullah memandang agama bukan sekedar simbol
formalitas belaka. Di balik semua ritus formal yang kaku, ada banyak
hikmah-hikmah diturunkannya syariat (maqashid
syariah), dan itulah yang esensi sesunggunya ajaran Islam. Afiliasinya ke
ordo sufistik juga mempengaruhi Waliullah untuk tidak semata-mata melihat agama
dari kacamata formalis yang rigid dan kaku.
Sebagai
seorang intelektual yang hidup di masa kemunduran umat Islam, Waliullah
berupaya untuk membangkitkan kembali kesadaran umat Islam. Krisis
multidimensional yang melanda umat Islam membuat mereka terpuruk nyaris di
seluruh lini kehidupan. Kelemahan umat Islam, menurut Waliullah terletak pada
ketiadaan persatuan diantara umat. Perpecahan yang timbul di kalangan umat
Islam adalah akibat banyaknya sekte-sekte dan mazhab-mazhab yang melakukan
upaya monopoli kebenaran. Dari klaim kebenaran absolut yang dikumandangkan
sekte-sekte tersebut terjadilah pertentangan dan pertumpahan darah diantara
sesama muslim. Pertentangan antara Syiah melawan Sunni, Muktazilah dengan
Asyariyah dan Maturidiyah, kaum sufi dan kalangan formalis adalah beberapa
contoh pertentangan yang memperlemah kedudukan umat Islam. Untuk mengatasi hal
tersebut, Waliullah menyerukan persatuan seluruh umat Islam, tidak peduli
apapun sektenya. Karena itu, Waliullah menerima eksistensi kaum Syiah di
tengah-tengah umat Islam lainnya. Meskipun mendapat banyak kecaman dari
kalangan konservatif , Ia tetap menegaskan pandangannya bahwa mereka (Syiah)
memiliki kedudukan yang sama dengan Sunni dalam tradisi Islam.[3] Prestasi lain Waliullah
adalah keberhasilannya mendamaikan pandangan wahdatul wujud Ibnu Arabi, dan wahdatul
syuhud Ahmad Sirhindi.[4] Upayanya tersebut didorong
oleh pandangannya yang enggan melihat gerakan sufi yang terlampau ekstrim. Afiliasinya
kepada ordo sufistik ortodoks membuatnya membenci tarekat sufi yang menyimpang
maupun pandangan sufi yang ekstrim. Baginya, tasawuf harus dikembalikan kepada
batasan-batasan yang diberikan oleh al-Quran.[5]
Sebab lain
yang membuat kemunduran umat Islam adalah masuknya adat istiadat bukan
Islam yang kemudian dianggap bagian dari
ajaran Islam. Menurutnya, umat Islam India banyak sekali dipengaruhi
adat-istiadat Hindu. Oleh karena itu ia sependapat dengan Muhammad bin Abd
al-Wahab bahwa keyakinan umat Islam harus dibersihkan dari tahayul, bid’ah dan
khurafat semacam itu.[6] Syah Waliullah menyajikan Islam
dalam bentuknya yang otentik –seperti Islam pada 2 abad pertama dari
kemunculannya- dan membuang semua tambahan (bid’ah) tak perlu yang muncul pada
abad-abad sesudahnya.
Mengikuti jejak dua pemikir besar Islam, al-Ghazali dan
Ibnu Taimiyah, Syah Waliullah sangat menentang taklid dan menganjurkan untuk
melakukan optimalisasi fungsi akal. Dengan melakukan taklid, umat Islam tidak
akan menemukan solusi keluar dari krisis multidimensi, karena hanya mengekor
pendapat ulama terdahulu yang memiliki konteks sejarah dan tantangan zaman yang
berbeda dengan umat Islam di India ketika itu. Untuk memecahkan persoalan ini
Waliullah menyerukan dibukanya pintu ijtihad agar umat Islam terdorong
menggunakan akalnya untuk memahami al-Quran dan dalam rangka memecahkan problema
sosial yang dihadapi. Untuk memahami al-Quran, perlu mempelajari latar belakang
sosial masyarakat Arab ketika itu, disamping juga memperhatikan sebab-sebab
khusus diturunkannya suatu ayat (asbab
al-nuzul) untuk kemudian dikontekstualisasikan dengan realitas dimana umat
Islam tinggal. Tanpa ijtihad, semua itu tak akan pernah tercapai.[7]
Dalam rangka mensukseskan gerakan purifikasi agama yang ia
canangkan, Syah Waliullah memberikan pembedaan epistemologis antara dua bentuk
Islam; universal dan lokal. Menurutnya, Islam universal mengandung konsepsi
umum, dasar-dasar pokok dan esensi dasar dari ajaran islam. Sementara itu Islam
lokal adalah bentuk Islam yang kental dipengaruhi corak lokal. Keduanya
bukanlah dua entitas yang berbeda, sebaliknya dengan adanya lokalitas, ajaran
Islam lebih mudah dipahami karena diadaptasikan dengan kulur lokal yang akrab
di telinga masyarakat. Dan inilah sesunggunya keunggulan Islam.[8]
Untuk lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal,
Waliullah mengambil inisiatif untuk menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa
Persia yang banyak dipakai di kalangan Islam terpelajar di India ketika itu. Meskipun
dikecam banyak kalangan karena penerjemahan al-Quran ketika itu masih dianggap
tabu, Waliullah tetap dalam misinya tersebut. Baginya, sia-sia belaka apabila
umat Islam membaca sesuatu yang tidak ia pahami kandungannya.[9]
Di bidang sosial-ekonomi, Waliullah memiliki konsep yang
membela kaum miskin tertindas. Gagasan inti konsep tersebut terpusat pada
distribusi kekayaan negara secara merata. Ia menolak keras praktek monopoli
yang menyebabkan larinya kekayaan ke tangan segelintir orang, sementara
sebagian besar lainnya berada di bawah garis kemiskinan. Dengan konsep ini
Waliullah berharap fenomena ketimpangan dan ketidakadilan sosial dapat
teratasi.
Shah Waliullah memiliki seorang putra dan 5 putri dari
istri pertamanya. Istri keduanya memberinya empat putra: Shah Abdul Aziz
Muhaddis Dehlvi, Shah Rafiuddin, Shah Abdul Qadir, dan Shah Abdul Ghani. Pada
tanggal 20 Agustus 1762, Shah Waliullah meninggal dan dimakamkan di pemakaman
Munhadian, di samping pusara ayahnya. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh
putranya, Syah Abdul Aziz (1746-1824), dan cucunya Ismail (1781-1831).
Biografi
Syed Ameer Ali (1849-1928)
Ia lahir pada 6 April 1849 di Cuttack di Orissa sebagai
anak keempat dari lima bersaudara. Ia berasal dari keluarga Syiah. Garis
keturunannya bersambung sampai Imam Syiah ke-8, Ali Reza. Ayahnya, Syed Saadat
Ali memboyong keluarganya pindah ke
Calcutta , dan kemudian ke Chinsura dimana mereka tinggal diantara kalangan
elite ashraf. Keluarganya bekerja di
lingkungan Istana Mughal.
Pendidikannya ia
peroleh dari perguruan tinggi Muhsiniya, dekat Kalkuta. Di sana ia belajar
Bahasa Arab, dan kemudian bahasa dan sastra Inggris serta hukum Inggris. Dia
lulus dari kampusnya tersebut pada tahun 1867. Dua tahun kemudian ia meneruskan
studinya ke Inggris untuk mempelajati hukum. Selesai studi tahun 1873, ia
kembali ke India untuk kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah Inggris,
pengacara, hakim. Dan guru besar dalam hukum Islam. [10]
Pada tahun 1877, ia membentuk National Mohammedan Association, sebagai wadah persatuan umat Islam
India. Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk membela kepentingan unmat
Islam dan mengembangkan kesadaran mereka dalam bidang politik. Perkumpulan ini
mempunyai 34 cabang di seluruh India. Pada tahun 1883, ia diangkat menjadi
anggota The Viceroy’s Council (Dewan
Raja Muda) di India, sebagai satu-satunya anggota Muslim dalam majelis itu. Dia
meninggalkan India dan menetap di Inggris pada tahun 1904. Dua tahun kemudian,
dia diangkat menjadi anggota The Judicial
Commitee of Privacy Council (komite Kehakiman Dewan Raja) di London. Dia
adalah orang India pertama yang menduduki jabatan tersebut.[11]
Di tahun yang sama (1906) Ameer Ali mendirikan cabang Liga
Muslimin India di London. Ameer Ali memandang bahwa umat Islam perlu mendekati
Inggris untuk mendapat manfaat dari kemajuan yang didapat dari pemerintah
kolonial tersebut. Karena kedekatannya dengan Inggris, Ameer Ali mengundurkan
diri dari Liga Muslimin terkait tuntutan rakyat India untuk mendirikan
“pemerintahan sendiri untuk India”.
Pemikiran
Ameer Ali
Ameer Ali dikenal di
dunia Barat karena tulisan-tulisannya yang apologetik kapada keyakinan
Islam. Dalam tulisannya, Ameer Ali kerap melakukan advokasi terhadap Islam
sekaligus juga membanggakan kejayaan Islam masa silam. Ia ingin membuktikan
bahwa Islam adalah baik, dan rasional, buktinya adalah kegemilangan peradaban
Islam di masa lampau. Ia ingin mengajak umat Islam untuk menelusuri warisan
klasik peradaban mereka dan menelisik bagaimana leluhur mereka dulu mampu
membuat peradaban yang menguasai dunia. Ia berusaha menunjukkan bahwa
satu-satunya jalan untuk membangkitkan kegemilangan masa silam adalah dengan
melakukan pembahruan pemikiran keagamaan.
Dalam buku Spirit of
Islam, Ameer Ali mengatakan upaya
pembaharuan tersebut tidak bisa dilakukan kecuali dengan didasarkan pada
rasionalitas. Islam adalah agama kemajuan yang sarat dengan nilai-nilai
rasionalitas. Umat Islam ketika itu terpuruk adalah akibat mengabaikan ajaran
agama mereka sendiri. Untuk itu ia menganjurkan umat Islam agar kembali kepada
nilai-nilai rasionalitas yang diajarkan agama mereka. Dalam buku yang dicetak
pertama kali tahun 1891 tersebut, Ameer Ali dengan berapi-api menerangkan
ajaran Islam mengenai tauhid, ibadah, hari kiamat, kedudukan wanita,
perbudakan, sistem politik, disamping ia juga memberi penjelasan tentang ilmu
pengetahuan, pemikiran rasional dan filosofis yang ada dalam sejarah Islam. Dia
menguraikan Islam sebagai kekuatan progresive besar yang potensial untuk
menggapai kesuksesan dalam menghadapi
tantangan modernitas.[12] Dia menggambarkan Islam
sebagai “Agama yang mengajarkan bertindak benar, berpikir benar, berbicara
benar, dibasisi oleh kekuatan cinta, kebaikan universal, persaudaraan manusia,
dan atas nama Tuhan”.[13]
Metode yang ia pakai adalah perbandingan dengan agama lain
untuk kemudian diberi penjelasan rasional. Ameer Ali membandingkan Islam dan
menerangkan kelebihannya dibandingkan agama-agama lain. Hal ini juga nampak
ketika Ameer mengulas masalah perbudakan dan membandingkan keadaan budak dalam
konsepsi Islam lebih baik daripada yang ditemukan pada masa Yunani, Romawi
Kristen, Yahudi dan peradaban lain. Atas pernyataannya tersebut, Ameer Ali
bahkan dianggap Majid Fakhry sebagai sosok intoleran terhadap kepercayaan lain.[14]
Kembali lagi ia menekankan pentingnya posisi akal dalam
Islam. Ia kecewa dengan kondisi umat Islam saat itu yang menyisihkan
rasionalitas dan menaruhnya pada posisi yang marginal. Selanjutnya ia
menunjukkan bahwa semangat pengembangan ilmu pengetahuan dimiliki oleh
Rasulullah dan generasi awal umat Islam. Rasulullah menempatkan posisi akal di
tempat yang tinggi.[15] Selanjutnya ia
menceritakan kisah kejayaan peradaban Islam klasik adalah hasil dari kerja
keras umat Islam dalam optimalisasi fungsi akal.[16]
Semangat rasionalistik itu kemudian harus pula diikuti
dengan keyakinan kebebasan kehendak manusia. Paham qadariyah inilah yang kemudian membuat aktifitas penalaran menjadi
semarak, karena manusia dituntut untuk berbuat, dan bertanggung jawab atas
perbuatan mereka sendiri. Mereka yang berprestasi baik akan mendapatkan reward dari Tuhan sebaliknya yang
berbuat buruk mendapatkan balasan buruk pula. Dengan konsep berpikir yang
demikian, maka umat Islam akan berlomba-lomba ke arah progresifitas, tidak lagi
diam terpaku menunggu pertolongan Tuhan.[17] Umat Islam menjadi umat
pasif dan tidak bersemangat, menurut Ameer Ali adalah akibat dominasi paham
Asy’ariyah yang berhasil mengalahkan kaum rasionalis di era al-Mutawakkil. Mulai
dari era itulah, umat Islam perlahan mulai mengalami kemunduran dan stagnasi
akut.[18]
Kekalahan dari peradaban Kristen-Barat bukan malah
menyadarkan umat Islam, malahan mereka seakan malas mengejar dan cenderung lari
dari kenyataan dengan menjadi pengikut ordo sufistik yang kemudian banyak
bermunculan di dunia Islam. Ameer Ali sebenarnya tidak menentang sufisme per se. Sebaliknya sufisme menurut Ameer
Ali adalah suatu idealisme yang mulia, bintang penunjuk jalan, dan ungkapan
hangat cinta Illahi. Yang menjadi ganjalan dalam benak Ameer Ali adalah
bagaimana kemudian sufisme digunakan para pemalas dan bodoh sebagai justifikasi
kemalasan mereka belajar dengan berpaling ke dunia mistik. Ironis sekali
apabila mendengar bahwa para petani meninggalkan sawahnya untuk mengikuti laku
suluk dan bertingkah layaknya orang yang mencapai makrifat.[19]
Kesimpulan
Pembaharuan di anak benua India pertama kali dikumandangkan
oleh Syah Waliullah. Bersama para pengikutnya, Waliullah berupaya membangunkan
kembali kesadaran umat Islam terhadap agamanya. Seruan persatuan antar seluruh
umat Islam India dalam melawan kaum Hindu dan pendudukan kolonial Inggris
mendapat sambutan hangat dari umat Islam dan sejumlah tokoh Muslim yang kemudian
meneruskan tongkat estafet perjuangannya. Salah satu diantara penerus Waliullah
adalah Syed Ameer Ali yang mengusung rasionalitas untuk menggerakkan umat
Islam.
Munculnya Liga Muslimin India pada tahun 1906 yang
menyuarakan konsep komunalisme semakin mendekatkan umat Muslimin India dengan
cita-cita pendirian negara Islam, terlepas dari India yang Hindu. Cita-cita
tersebut akhirnya terwujud dengan terbentuknya Republik Islam Pakistan pada
tahun 1947.
Referensi
Harun
Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1996).
Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1997).
Ashgar
Ali Engineer, Islam dan Teologi
Pembebasan, terj. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2000).
Rasihan
Anwar, Ajaran dan Sejarah Islam untuk Anda,
(Jakarta: PT. Dunia Pustaka jaya, 1979).
Syah
Waliullah al-Dihlawi, Pengetahuan Suci, terj.
(Surabaya: Risalah Gusti, 2002).
Mukti
Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India
dan Pakistan, Cet. 4 (Bandung: Mizan, 1998).
Syed
Ameer Ali, The Spirit of Islam, terj.
(Yogyakarta: Navila, 2008).
Majid
Fakhry, A History of Muslim Philosophy, Cet.
2, (New York: Columbia Uni-Press, 1983).
