Strategi adalah cara yang
dilakukan manusia untuk mencapai tujuannya. Pada era klasik, studi strategi
sering dikaitkan dengan peperangan. Bagaimana memenangkan perang dan menekan
angka korban dari pihak kita sesedikit mungkin. Sun Tzu memaknai strategi
sebagai seni memenangkan peperangan. Pendekatan klasik seperti ini sering berpatokan
pada konsep realis yang cenderung pesimis dalam memaknai manusia. Pada
esensinya, menurut pandangan kaum realis manusia merupakan makhluk egois, bangga
akan dirinya dan senang berperang demi memuaskan hasrat pribadinya. Alpanya
hukum internasional dan tidak adanya otoritas pemerintah di level global acap
dijadikan alasan pembenaran demi kepentingan dan kekuasaan. Makna strategi yang
demikian membuat banyak kalangan menyebut strategi sebagai seni para jenderal,
karena mau tak mau memang para jenderal lah yang menyiapkan strategi dan
memimpin peperangan secara langsung.
Banyak
kritik dialamatkan pada studi strategi dengan pendekatan klasik seperti ini. Ia
dianggap hanya fokus kepada konflik dan peperangan saja, sehingga melupakan aspek-aspek
interdisipliner seperti isu politik, etis, sosial dan budaya. Pendekatan ini
juga dipandang terlalu state-centric
dan tidak ilmiah. (Gray, 1982)
Kecenderungan yang military-oriented demikian terus
berlangsung hingga paruh kedua era perang dingin. Setelah munculnya kesadaran
bahwa strategi dapat diaplikasikan di berbagai ranah, sehingga sangatlah sayang
untuk diperuntukkan bagi para jenderal saja. Dalam sebuah artikel 'Strategy as
Science' Bernard Brodie (1949) menyerukan pendekatan metodologis untuk
mempelajari strategi serupa dengan yang
diadopsi oleh ilmu ekonomi. Apa yang dimaksudkan Brodie adalah aplikasi dari
formasi yang lebih sistematis dalam
menganalisa isu-isu strategis daripada menggunakan pendekatan sempit yang
diadopsi militer yang hanya terbatas pada penggunaan taktik dan teknologi.
(Baylis,2007)
Pemikiran tersebut timbul setelah
perang (konflik) tak lagi melulu soal militer dan kontak senjata. Faktanya,
esensi dari strategi sebagai sebuah aktifitas untuk memuluskan tujuan dapat
terjadi di bidang ekonomi, politik, bisnis hingga olahraga. Tuntutan untuk
melewati situasi sulit dalam waktu sempit membutuhkan kejelian seorang ahli
dalam mengambil kebijakan strategis. Dalam keadaan demikian, menurut Brodie
(1949) seorang strategis harus mempelajari strategi dari perspektif
interdisipliner. Manajemen strategi yang hebat membutuhkan
pengetahuan-pengetahuan tentang politik, ekonomi, psikologi, soisologi,
geografi, dan juga teknologi, struktur kekuatan serta taktik.
Dekade 1950-an, dua profesor kebijakan
bisnis di Harvard, George Albert Smith Jr. and C. Roland Christensen mengajari siswanya untuk
mempertanyakan apakah strategi sebuah perusahaan sesuai dengan iklim kompetitif
di masa itu. Ini adalah titik balik perluasan studi strategi yang merambah
bidang manajemen bisnis. Beberapa saat setelahnya, muncullah banyak konsultan
strategi bisnis, seperti The Rise of Strategic Consulting, pada tahun 1960-an, dan The
Boston Consulting Group yang
didirikan pada tahun 1963.
Setelah persinggungan pertama
dengan disiplin ilmu diluar militer, mengemuka isu yang memperdebatkan apakah teori-teori
yang dimunculkan para ahli strategi relevan dalam memecahkan persoalan yang
dihadapi para praktisi di lapangan. Isu ini mengemuka paska banyaknya ahli
strategi yang diangkat sebagai penasihat pemerintahan. Para ahli strategi
dikritik karena dianggap hanya duduk manis di menara gading dan bermain-main
dengan teori yang mereka buat, mengajukan revisi teori mereka dan lebih
mendorong keluarnya teori sekunder daripada aplikasi primer. Sehingga
jelas, karena tidak ada korelasi intens antara teori dan realitas, permasalahan
yang terjadi tidak pernah terselesaikan dan teori-teori itu kehilangan nilai
guna.
Kasus ini dapat terpecahkan
apabila para strategis itu juga terjun langsung ke periferi pembuat kebijakan
atau berharap para praktisi membaca tulisan-tulisan mereka. Seperti disinggung
Brodie, bahwa satu pertanyaan yang selalu mengemuka terkait strategi adalah
“Apakah ide ini akan berhasil?”. Strategi adalah suatu ruang dimana kebenaran
dinilai dengan mempertimbangkan apakah ide tersebut dapat memecahkan
permaslahan. (Betts,1997)
Untuk menjembatani kesenjangan
antara teori brilian namun miskin aplikasi, kita bisa mempelajari cara yang
digunakan John Boyd, perwira Amerika legendaris. Digelari dengan banyak julukan
seperti ‘Gengis John’, the ‘Mad Colonel’ karena kehebatannya dalam meracik
strategi yang sukses diterapkan di lapangan. Menurut Boyd, kemenangan dalam
pertempuran bukanlah soal sebanyak apa kita membunuh atau menghancurkan musuh,
namun ‘decision cycle dominance’.
Sejauh mana kita melihat cela kelemahan musuh, sehingga bisa terus mendominasi
mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan observing (observasi), orienting
(orientasi), deciding (memutuskan),
dan acting more than your opponent
(berbuat lebih daripada musuhmu). Keempat hal tersebut diulang terus-menerus (loop) sehingga bisa mencapai hasil
maksimal.
Jose
Mourinho, Sosok Stratejis
Sepak Bola
Nama yang sangat melegenda dalam
dunia sepak bola. Pelatih jenius dengan komentar-komentar kontroversial yang
kerap meluncur dari bibirnya. Dibenci lawan, namun disegani anak buah dan
koleganya. Sosok yang pedas dalam berkata namun sarat dengan prestasi. Pelatih yang
sekarang menukangi raksasa Spanyol, Real Madrid ini adalah seorang strategis
ulung dalam sepak bola. Ia mampu mengkombinasikan racikan taktik jitu di
lapangan, dengan pembentukan karakter pemain, penanaman disiplin, motivasi
semangat tim, melakukan pendekatan kekeluargaan, dan gaya kharismatik
kepemimpinannya yang tak bisa dihalangi siapapun.
Pria kelahiran Setubal, Portugal 49 tahun
silam ini banyak memberikan prestasi bersama klub-klub yang ditanganinya. Mourinho
dua kali membawa Porto, Chelsea dan Inter Milan menjadi juara liga serta
mengantarkan gelar Liga Champions dan Piala UEFA bagi Porto dan gelar Liga
Champions pertama selama hampir setengah abad bagi Inter Milan. Belum lagi
sederet prestasi lainnya seperti memenangi Piala Portugal (2002-2003) bersama
Porto, FA Cup (2006-2007) dan Community Shield (2005) untuk Chelsea, Coppa
Italia (2009-2010) dan Super Coppa Italia (2008) dengan Inter Milan serta Copa
Del Ray (2010-2011) bersama klub yang ditukanginya saat ini. Selain bersama
klub yang ditangani Mourinho tercatat lebih dari 15 kali mendapatkan
penghargaan individual dari berbagai kalangan. Tak heran jika Ia tiga kali
dinobatkan sebagai pelatih sepak bola terbaik dunia oleh International
Federation of Football History & Statistics (2004, 2005, dan 2010).
Banyak sisi menarik dari strategi
sepak bola ala Mourinho. The Special One
ini sering dikritik karena menampilkan permainan negative football, mengacu pada kegemaran Mourinho melakukan segala
cara untuk memenangkan pertandingan, result
oriented, tak peduli bagaimana cara bola itu dimainkan, sepanjang itu dapat
memenangkan pertandingan maka itulah strategi terbaik. Strategi sepak bola ala
pria yang tidak memiliki karir bagus saat menjadi pemain ini sangatlah
fleksibel. Ia gemar melakukan gonta-ganti formasi tergantung pada lawan yang
dihadapi. Mourinho dikenal sebagai orang yang sangat rinci mempelajari kekuatan
dan kelemahan lawan. Ia dengan cerdas kemudian mampu menyiapkan tim untuk
secara efektif meredam kekuatan lawan dan mengeksploitasi kelemahan lawan
secara maksimal.
Misalnya, dalam semifinal Liga Champions
edisi 2009-2010 melawan Barcelona, Mourinho yang kala itu membesut Inter Milan,
mengejutkan banyak pihak dengan strateginya. Pada pertandingan itu Inter Milan
yang kehilangan Thiago Motta akibat mendapatkan kartu merah di menit 27 membuat
Mourinho segera menarik mundur seluruh pemainnya. Namun model pertahanan yang
digunakan Mou sedikit berbeda dengan
yang biasa di peragakan tim lain. Pemenang Ballon d’Or 2010 ini
menginstruksikan anak buahnya untuk membiarkan Barcelona terus memegang bola,
memberikan sedikit kelonggaran tapi terus menerus menutup lubang aliran bola
yang dialirkan pemain-pemain Barcelona. Pasca ditarik keluarnya striker
jangkung Zlatan Ibrahimovic, Mourinho menginstruksikan anak buahnya untuk fokus
di tengah lapangan, karena tahu Barcelona tidak akan melakukan serangan dari
sayap. Sepanjang pertandingan Barcelona yang menguasai ball possesion hingga
73% dibuat mati kutu dan akhirnya harus mengakui keunggulan Inter dengan skor
aggregat 3-2.
Mourinho juga sosok yang
bertanggung jawab dari bersinarnya bintang-bintang baru. Nama-nama seperti
Frank Lampard, John Terry, Angel di Maria, Mesut Oezil, Carvalho, Deco adalah
sederetan pemain yang mengkilap penampilannya pasca dibesut oleh tangan dingin
Mou. Ia juga melakukan pembelian pemain yang strategis, tak mesti mahal namun
sesuai dengan karakter pemain yang dibutuhkan oleh tim.
Selain jenius dalam meramu
strategi jitu dalam pertandingan, ayah dua anak ini juga pandai dalam membangun
sebuah tim yang kokoh. Sisi psikologis dan mental pemain, yang jarang diperhatikan
pelatih lain juga tak luput dari sentuhan Mou. Dengan melakukan pendekatan
persuasif dan kekeluargaan Mourinho mampu membentuk tim yang solid. Itulah
mengapa semua pemain hormat kepada Mou, karena menganggap sosok kontroversial
ini merupakan pelatih jenius yang memperhatikan mereka. Mou adalah sosok yang
familiar, perhatian, dan mampu memberikan rasa percaya diri kepada anak asuhnya
sehingga mampu mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.
"Mourinho seperti ayah bagi
saya. Dia adalah guru yang hebat, karakter yang kuat dan merupakan sosok
pelatih yang memperhatikan semua pemainnya," puji bintang internasional
Jerman, Mesut Oezil[1].
“Mourinho adalah pelatih terkuat
yang saya tahu. Dia sangat luar biasa,” puji Thiago Motta.[2]
"Dia berperan besar dalam
karir saya. Saya ingat pertemuan pertama tim dengan Mourinho, dia mengumpulkan
semua pemain dan berkata, 'dengar semuanya, kalian belum pernah memenangkan
apapun, kalian belum berbuat apa-apa, jika kalian mengikuti saya kita akan
memenangkan liga, April nanti'," papar mantan anak asuh Mourinho di Chelsea,
Joe Cole[3].
"Bahkan, ketika saya tidak
bermain di akhir musim 2005-06, saya masih memiliki hubungan yang baik dengan
dia. Pemain selalu marah ketika mereka tidak bermain, tetapi Mourinho tetap
dapat memberikan suasana kondusif di klub. Bahkan pemain yang tak bahagia
menjadi bahagia karena dia. Saya belum pernah melihat itu sebelumnya,"
Alexy Smertin.[4]
Ia dikenal dengan karakternya
yang tanpa kompromi. Bagi Mou, dalam tim yang ia latih sosok yang paling
berkuasa adalah dirinya. Semua pemain dalam pandangan si family man ini adalah sama. Asalkan dia disiplin, mau menerima
instruksinya, dan menunjukkan performa terbaik maka starting eleven akan
menjadi jaminan. Tidak ada istilah ‘anak emas’ atau ‘megabintang’ dalam kamus Mourinho.
Dengan pendekatan demikian Mou mampu meredam ego para superstar yang berpotensi
merusak keseimbangan tim. "Hal
terpenting bukanlah bagaimana selalu bisa mencetak gol. Tetapi bagaimana bisa
bermain sebagai sebuah tim dan bisa menjadi sebuah kolektifitas."[5]
Kedisiplinan merupakan salah satu
ciri khas Mou. Penanaman kedisiplinan menurut Mou adalah salah satu kunci
sukses sebuah tim. Mou dikenal selalu datang lebih dahulu dari pemainnya. ia
mewajibkan semua pemain untuk tepat waktu dalam sesi latihan. Telat sedetik
saja, tak segan-segan Mou melarang pemain tersebut mengikuti sesi latihan
bersama. Mou juga tak risih memarkir pemain bintang akibat melanggar aturan
yang ia buat. Mario Balotelli dan Adriano pernah menjadi korban saat tak
dimainkan Mou karena tidak disiplin dan melanggar instruksi Mou[6].
Demi mengukuhkan kesolidan sebuah
tim, dan melindungi mereka dari sasaran kritik Mourinho tak ragu melakukan
segala cara. Ketika menderita kekalahan peraih dua kali treble winner bersama Porto dan Inter ini tak pernah menyalahkan
pemainnya[7],
bahkan ia mempunyai cara lain untuk mengalihkan kritikan media kepada dirinya.
Mou menghadapi media seorang diri dengan mengeluarkan statement kontroversial,
dan kadang membuat panas kuping lawan Mourinho seakan ingin melindungi
pemainnya dari perhatian awak media. Mou juga kerap menyalahkan fans yang tidak
memberikan dukungan semestinya kepada klub kesayangannya. Mou menganggap
suporter adalah salah satu elemen kunci untuk mengangkat moral pemain.[8][9]
Sisi menarik dari sosok Mou,
meskipun ia banyak dihujani kritik dan caci maki dari berbagai pihak luar,
namun di dalam klub yang ia bela, Mou selalu mendapatkan dukungan penuh. Ia
pernah terlibat perseteruan dengan pelatih lawan. Sir Alex Ferguson, Arsene
Wenger, Rafael Benitez, Carlo Ancelotti, hingga Pep Guardiola adalah beberapa
nama yang pernah cek-cok dengan Mou. Tak ketinggalan pihak lain seperti UEFA,
komisi liga Italia, dan offisial pertandingan hingga fans lawan tak luput dari
menyerang Mou. Namun menariknya, Hubungan Mourinho dengan pemain[10][11][12],
asisten, jajaran direksi[13],
presiden dan fans klub[14]
yang ia bela hampir bisa dikatakan sangat mesra. Ia sangat dekat dengan
Florentino Perez, Presiden Real Madrid. Ia juga menjalin hubungan mesra dengan
Abramovich, pemilik Chelsea dan Massimo Moratti, presiden Inter semasa menukangi
kedua klub tersebut, bahkan hubungan baik itu masih terus berjalan hingga saat
ini[15].
Ia melakukan semua yang dibutuhkan klub meraih sukses, meskipun sering ia
memancing kemarahan klub atau pihak lain akibat komentar pedasnya.
“Saya kira kesempatan untuk
melatih Madrid merupakan kesempatan emas bagi karir saya untuk masuk dalam
jajaran pelatih terbaik. saya senang punya kesempatan untuk melatih klub luar
biasa seperti Madrid", Saya dan klub memiliki projek dan ambisi yang sama.
Bagi saya, menjadi bagian dari klub sehebat Madrid merupakan pengalaman yang
tidak akan bisa dilupakan. Madrid adalah klub terbesar di dunia dan saya
bahagia berada di sini." tutur Mou[16][17]. Mourinho
selalu mempunyai komitmen kuat pada klub asuhannya. Dalam pandangan Mou, untuk
membuat sebuah tim yang solid dibutuhkan membangun hubungan yang dengan semua
pihak yang mendukung kejayaan klub. Sehingga tak heran, pendukung klub yang
pernah ia besut masih meneriakkan namanya meskipun ia sudah hengkang.[18]
Konklusi
Untuk menjadi seorang strategis,
dibutuhkan keahlian interdisipliner. Seorang tidak akan bisa menjadi seorang
ahli strategis yang handal jika hanya menguasai satu bidang saja. Karena
pekerjaan seorang strategis adalah bagaimana memenangi pertarungan dengan tanpa
menggunakan banyak tenaga dan pengorbanan yang besar. Seorang strategis
diharapkan mampu untuk mengamati kondisi
lawan, menganalisa cela-cela kelemahan, mengambil keputusan strategis dan dalam
tempo singkat, sehingga mampu bertindak lebih cepat dari lawan yang di hadapi.
Ulasan singkat mengenai sosok
Jose Mourinho diatas, meyakinkan penulis bahwa Jose Mourinho merupakan sosok
strategis dalam sepak bola. Disamping cerdik meramu strategi dan membaca
permainan lawan, The Special One juga
handal dalam membentuk sebuah tim yang solid. Hal tersebut ia lakukan dengan
menerapkan kedisiplinan, memperhatikan dan melindungi pemain, menjadi motivator
untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka, menjalin relasi yang baik dengan
semua pihak yang turut andil membesarkan klub. Di luar semua kontroversi yang
menyelimuti, sosok Mourinho layak ditempatkan sebagai salah satu jenius sepak
bola.
