Seiring
dengan semakin meluasnya globalisasi menyebabkan manusia semakin terikat satu
sama lain. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia dapat saling berkomunikasi
dan berinteraksi berkat perkembangan massif dunia informasi dan mode
transportasi hal ini kemudian semakin menegasikan peran negara dalam membangun
masyarakat yang homogen. Masyarakat suatu negara yang tadinya memiliki keunikan identitas dan kultur semakin
terancam dengan kedatangan para imigran dari berbagai latar belakang budaya
berbeda. Dalam satu wilayah yang ditinggali manusia dari seluruh penjuru dunia maka meniscayakan percampuran semua
kebudayaan. Dalam masyarakat kosmopolit seperti itu berkembanglah kemudian
pergumulan kebudayaan antara budaya pribumi dan pendatang.
Dalam
makalah kecil ini penulis ingin mendiskusikan posisi Dubai
yang berkembang menjadi salah satu kota
yang dianggap cosmopolitan di dunia. Apakah benar Dubai
dapat dianggap sebagai kota
cosmopolitan? Fenomena social apa sajakah yang terjadi dalam kota
yang dianggap sebagai ikon kota
masa depan dunia ini? Bagaimanakah hubungan minoritas-mayoritas dalam
konstruksi social masyarakat Dubai
modern? Serta bagaimanakah peranan yang dimainkan pemerintah Dubai menyikapi fenomena baru tersebut?
Dubai, Kota Masa Depan
Booming minyak yang terjadi pada decade
1960 an membawa perubahan sigifikan kondisi Dubai. Daerah yang semula masyarakatnya terkenal sebagai masyarakat nomaden badui dan nelayan
mutiara berubah drastis
menjadi daerah industri yang berkembang cukup pesat hanya dalam kurun waktu 4
dekade saja. Sejak dulu masyarakat
Dubai memang sudah berinteraksi dengan beberapa komunitas pendatang, seperti
dari Iran, dan Afrika. Namun ledakan mampu lebih banyak menarik orang-orang
pendatang dari lebih banyak negara daripada yang pernah disaksikan negara
tersebut.
Hari ini Dubai sangat terkenal sebagai
salah satu daerah paling kaya di dunia. Dengan pendapatan nasional yang didapat dari minyak bumi dan gas alam mampu
menghasilkan $ 37 miliar pada tahun 2006. Belum lagi ditambah pendapatan dari
sektor lain seperti real estate dan konstruksi yang menyumbang 22,6% dari
pendapatan nasional. Dubai telah menarik perhatian dunia dengan berbagai proyek ambisius yang megah dan inovatif. Proyek menara burj Dubai dan burj khalifah merupakan menara tertinggi dunia, hotel bintang tujuh pertama di dunia, ski indoor terbesar di dunia dan mall
terbesar di dunia, belum lagi ditambah pulau buatan (palm Jumaerah) dan banyak lagi terobosan baru yang sangat menakjubkan sehingga menjadikan Dubai sebagai kota idaman
masa depan.
Dubai Kota Kosmopolitan?
Menurut Orion Kriegman, salah satu kategori suatu masyarakat di satu wilayah dapat
digolongkan sebagai masyarakat cosmopolitan, selain terdiri dari komposisi
etnis dan bangsa yang bermacam-macam adalah adanya satu kesadaran bersama
sebagai bagian dari keluarga manusia, dengan memiliki tanggung jawab satu sama
lain. Tanggung jawab tersebut sama seperti yang mereka miliki terhadap negara,
keluarga asal, dan etnis mereka sendiri. (2006) Pertanyaan yang
mengemuka kemudian, apakah Dubai dengan segala macam kemewahannya,
dengan berbagai budaya orang-orang yang dating kesana layak dilebeli sebagai
masyarakat cosmopolitan?
Dengan berbagai proyek supermewahnya,
Dubai berhasil menarik banyak tenaga kerja di seluruh dunia. Sekarang,
komposisi demografis penduduk Dubai terdiri dari 83 % pendatang dan hanya 17%
penduduk lokal. Dari pendatang tersebut, terdiri dari etnis India (51%),
Pakistan (15%), Bangladesh (9%), Philipina dan para ekspatriat Eropa (3%).
Dengan banyaknya pendatang yang memenuhi Dubai tersebut maka tak heran jika
etnis lokal semakin terdesak. Dominasi budaya pendatang nampak pada
banyak area seperti makanan, gaya
hidup, bahasa, dan banyak aspek kehidupan lain. Hal itu dapat terlihat pada
penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai pada banyak urusan di Dubai,
mengalahkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.
Untuk
melindungi eksistensi penduduk pribumi
dan budaya lokal
sembari tetap menjaga Dubai sebagai kota kosmopolitan, pemerintah Dubai di satu sisi banyak mensponsori kampanye toleransi dan
penghormatan kepada masyarakat lain. Namun di saat yang sama menyadari
keberadaan etnis emirati yang semakin terdesak di negara sendiri, pemerintah Dubai berinisiatf memberikan
hak-hak istimewa yang melindungi mereka dari ekspansi budaya pendatang.
Proses
pertumbuhan Dubai sebagai kota kosmopolitan
dengan beragam budaya yang masuk didalamnya mendapat reaksi keras dari kalangan
penduduk dubai hal ini semakin memperkuat tesis Anthony D. Smith bahwa imigrasi dan percampuran kebudayaan dapat
memantik reaksi berlawanan dari penduduk pribumi yang merasa terancam
kehilangan kebudayaannya. Program emiratisasi yang digalakkan pemerintah Dubai dapat dijadikan
contoh kasus.
Pemerintah
memberlakukan program yang disebut emiratisation, dimana program itu ditujukan
untuk mendorong penduduk local menempati posisi-posisi penting di sector publik dan privat Pemberian hak
privilege tersebut meliputi pemberian subsidi dari pemerintah dan hak-hak
medapatkan fasilitas istimewa dalam negara. Kebanyakan warga emirate tinggal di
vila-vila mewah terpisah dari penduduk lainnya. Mereka hidup nyaman dengan
berbagai fasilitas melimpah pemerintah di wilayah Jumeira, Um Suqeim, dan
Garhoud. Sementara para ekspatriat bule tinggal
juga tak jauh dari wilayah yang ditempati penduduk asli, namun interaksi
diantara mereka jarang sekali terjadi. Penduduk emirate hidup dengan sesamanya
sendiri dan membentuk komunitas eksklusif berbeda dari penduduk lainnya. Sedangkan
penduduk dari asia selatan atau asia tenggara menempati tempat-tempat pinggiran
di wailayah old Dubai .
Kondisi mereka boleh dibilang memprihainkan karena kerap mendapatkan diskriminasi sosial tanpa
memiliki payung perlindungan
hukum yang memadai.
Konklusi
Dari pembahasan singkat diatas terbukti
bahwa proses menuju cosmopolitanisme tidak akan pernah mudah. Gesekan-gesekan
antar kebudayaan dapat dipastikan akan selalu ada, terlebih penduduk pribumi
yang merasa terancam dengan desakan mayoritas pendatang.dalam kasus Dubai diatas, terlihat sekali bahwa meskipun didalamnya hidup berbagai
budaya namun tidak ada interaksi intim diantara mereka. Demografi penduduk Dubai cenderung bisa dikategorikan sebagai ‘salad bowl’ dimana berbagai
kebudayaan tersebut cenderung berjalan sendiri-sendiri, acuh terhadap yang
lain.
Jadi
dalam kasus Dubai diatas penulis menarik kesimpulan bahwa masyarakat Dubai
belum dapat digolongkan sebagai masyarakat kosmopolitan. Itu disebabkan tidak
adanya kontak intim antar kebudayaan, dan adanya tanggung jawab bersama
diantara komunitas yang ada. Penggalakan program emiratisasi yang memberikan
privilege kepada minoritas pribumi semakin menunjukkan bahwa pemerintah Dubai kurang
mendukung proses menuju masyarakat kosmopolitan.
Referensi :
-
Featherstone,
Mike (ed) Global Culture, Nationalism, globalization and modernity, London,
Sage Publication 1990
-
Kriegman,
Orion, Dawn of the Cosmopolitan, the hope of the global citizen movement,
Boston, Tellus Institute, 2006
