Sepintas Kilas Orientalisme; Definisi, Sejarah, Motif dan Tujuan
Kata Orientalisme berasal dari kata ‘Orient’ yang berarti Timur.
Orientalisme sendiri secara etimologi bermakna studi ketimuran atau studi
tentang dunia Timur, yang mencakup berbagai disiplin keilmuan, budaya,
adat-istiadat, sejarah dan agama. Sementara dalam pengertiannya secara luas,
terma orientalisme disematkan kepada para ilmuwan Barat yang melakukan studi
mengenai hal-hal ketimuran secara keseluruhan, baik Timur Jauh (India, Cina,
Jepang,dll) atau Timur Dekat (Dunia Arab-Islam) dalam berbagai macam pernak-perniknya.
Namun yang hendak dikaji lebih mendalam pada makalah ini ialah makna
orientalisme sebagai sebuah gerakan pembelajaran, penerjemahan dan aktifitas
ilmiah yang dilakukan oleh para Ilmuwan Barat dalam mengkaji Dunia Arab-Islam
secara khusus, yang meliputi ilmu pengetahuan, adat-istiadat, kebudayaan, agama
dan sebagainya[1].
Bersamaan dengan pembebasan daerah-daerah di sekitar Jazirah Arab,
interaksi dengan orang-orang di daerah taklukan mulai terjalin dengan erat. Tak
melulu interaksi yang bersifat keseharian
namun juga dalam sektor ekonomi, politik hingga ilmu pengetahuan dan
dogma agama. Keragaman budaya dan agama di daerah taklukkan mau tidak mau
memaksa para penduduk disana mempelajari Islam sebagai ajaran yang sama sekali
baru buat mereka. Respons mereka cukup beragam. Meskipun mayoritas penduduk
menyambut baik kedatangan agama baru ini, namun terdapat segelintir orang yang
menaruh kebencian terhadap Islam. Aroma permusuhan ini datang bukan lantaran
ada ajaran-ajaran Islam yang tidak baik, namun lebih dipicu oleh faktor
politis. Mereka ini umumnya dari kalangan yang merasa dirugikan oleh kedatangan
kaum Muslim, seperti para pendeta Kristen dan Rabi Yahudi ataupun penguasa yang
merasa terancam kekuasaannya oleh kedatangan umat Islam.
Meluasnya pengaruh Islam di wilayah mereka mengundang kekhawatiran
akan eksistensi mereka dan komunitas religiusnya. Mereka khawatir jika hal ini
dibiarkan begitu saja maka tidak mustahil mereka akan tersisihkan dari
kedudukannya. Maka dari sinilah dimulai gerakan untuk mempelajari ajaran-ajaran
Islam, bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk dicari titik kelemahannya
untuk dijadikan amunisi menyerang Islam. Mereka inilah embrio dari gerakan
penerjemahan dan studi terhadap Islam, yang kelak dikenal dengan istilah Orientalisme.
John of Damascus (676-749 M), seorang pendeta Kristen Nestorian
Syria termasuk salah satu orang mula-mula yang mempelajari seluk beluk Islam
untuk membentengi dogma Kristen di Syria. John of Damascus juga menulis dalam
bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen Ortodoks bahwa Islam mengajarkan
anti-Kristus. Ia berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang
Arab yang bodoh. Berkat kelicikannya, Muhammad bisa memperistri Khadijah untuk mendapatkan
harta kekayaannya. Dengan cerdas Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya
ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu
seksnya tidak tersalurkan.[2] Sepanjang
hidupnya ia sempat mengarang buku-buku yang menyerang Islam untuk komunitas
Kristen, seperti; Muhawarah ma’a Muslim (Dialog dengan Muslim), Irsyadat
al-Nashara fi Jadal al-Muslimin (Petunjuk-petunjuk bagi orang Kristen dalam
berdebat dengan Muslim). Meskipun John of Damascus ini belum bisa disebut
Orientalis karena ia adalah orang Timur, namun upayanya untuk menulis tentang
Islam dari sudut pandang Kristen dapat disejajarkan dengan upaya para peneliti
Barat yang melakukan hal yang sama di kemudian hari.
Menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq, cendekiawan terkemuka asal Mesir
menyebutkan bahwa sebagian peneliti berpendapat bahwa awal mula kemunculan
Orientalisme pada abad 11 Masehi. Sementara Rudi Paret menyebut bahwa abad 12
adalah pertama kali Orientalisme muncul di Eropa bersamaan dengan rampungnya
penerjemahan Al-Qur’an pertama kali ke dalam bahasa Latin. Sebagian peneliti
yang lain mengembalikan sejarah awal orientalisme pada abad ke 10. Menurut
Naguib Al-Aqiqi, penganut pendapat ini menyandarkan argumennya pada sepak
terjang pastor Perancis, Guibert de Oreilak (938-1003) yang belajar Bahasa Arab
dan ilmu-ilmu Islam di Sevilla, Cordoba, dan kota-kota lain di Andalusia. Tak
lama berselang Gerbert ini menerima mandat diangkat sebagai Paus di Roma dengan
gelar Silvester II[3].
Serangan spesifik terbesar pada abad pertengahan barangkali bisa
disebutkan megaproyek ambisius dari Kaisar Byzantium Jan Contacozien dalam dua
bukunya; Dhid Tamjid al-Millah al-Muhammadiah dan Dhid al-Shalawat wa
al-Taratil al-Muhammadiah yang ditulis menggunakan Bahasa Yunani, Suryani,
Armenia dan Arab.[4]
Gerakan Orientalisme menemukan momentumnya segera setelah konisili
Viena diadakan pada 1312. Ide untuk mengadakan muktamar akbar tersebut digagas
oleh ilmuwan terkemuka, Roger Bacon (1214-1294). Ia menyadari bahwa untuk
menaklukkan Islam tidak bisa dengan jalan pertempuran fisik karena pasukan
Islam ketika itu mempunyai armada militer yang tangguh, namun dilakukan dengan
jalan mengadakan perang pemikiran. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut
adalah dengan menguasai Bahasa Arab. Pendapat Bacon ini diamini oleh Raymond
Lull (1235-1316), seorang cendekiawan Kristen yang getol mendirikan pusat-pusat
studi Bahasa Arab.
Pada pertemuan akbar tersebut dikeluarkan keputusan untuk lebih
memperdalam lagi studi tentang Arab dan keislaman. Salah satunya adalah dengan
menjadikan Bahasa Arab sebagai objek studi kajian di beberapa universitas
terkemuka di Eropa seperti; Oxford, Bologna, Paris, Kurie, dan Salamanca[5].
Harapannya, seperti dikemukakan Guillaume Postel (m.1581) dengan mempelajari
bahasa Arab maka akan semakin mudah mempelajari kelemahan-kelemahan Al-Quran.
Dengan demikian, tujuan utama mereka untuk kristenisasi Umat Islam semakin
cepat terealisasikan[6].
Pasca jatuhnya Kostantinopel ke tangan kaum Muslimin, serangan
pemikiran terhadap Islam sedikit redup, karena para pendeta dan teolog yang
selama ini getol menyerang islam banyak berasal dari daerah Byzantium dan
sekitarnya. namun hal itu tak berlangsung lama, di belahan Eropa yang lain,
tepatnya di Roma, pusat komunitas Katholik berada Kardinal Nicolai de Coza
(1401-1464), atas restu Paus Pius II menulis buku yang mengolok-olok Islam.
Dalam Gharbalah Al-Qur’an ia menuduh Al-Quran adalah hasil copy cat
dari Injil dan ia juga menegaskan bahwa Islam adalah sekte heretik dari
Kekristenan yang menyeleweng sehingga harus dilenyapkan.
Upaya de Coza ini dilanjutkan oleh para Bapa Gereja Dominikan dan
Jesuit setelahnya yang banyak menuliskan buku-buku tuduhan terhadap Islam.
Seperti contoh; Bapa Denis yang menganggit buku “Kebohongan-Kebohongan
Muhammad” (Cologne 1533). Alfonso Seina dalam “Benteng Iman” (1491).
Jean de Tierikrimeta “Bantahan terhadap Penipuan-Penipuan Muhammad”
(Roma 1606), Louis Veiv “Iman Kristen vis a vis Muhammadinisme”, Michel
Nan “Gereja Roman-Greko dan Perannya melindungi Iman Kristen melawan
Al-Quran dan Pengikutnya” (Paris 1680).
Barangkali serangan terbesar yang dilancarkan Orientalis pada abad
pertengahan adalah apa yang ditulis orientaslis Italia Ludo Figo Marash
(1612-1700) dalam buku “Studi Teks Al-Quran”. Kitab ini dicetak di
Padova tahun 1698 dalam 2 jilid besar. Di dalamnya ia mengupas kehidupan Nabi
Muhammad dengan bersumber -menurut pengakuannya- kepada literatur-literatur
Arab yang otoritatif. Dengan kemampuannya menguasai bahasa-bahasa Semit, Arab,
Ibrani, Suryani, Marash memasukkan juga dalam bukunya terjemahan-terjemahan
Al-Quran berbahasa Latin, kemudian melakukan anotasi-anotasi dan lalu
mengkritiknya.
Menurut Abdurrahman Badawi, buku yang ditulis Marash ini mempunyai
pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan gerakan orientalisme di
abad-abad setelahnya. Karena dengan berpedoman pada buku yang ditulis Marash
tersebut para orientalis mendasarkan argumen mereka untuk menyerang Islam[7]. Carlo
Alfonso Nallino (1872-1938), Orientalis Italia yang telah berhasil menghimpun
surat-surat Al-Quran secara kronologis, dengan dilengkapi notasi-notasi penting
dan kamus istilah, sekaligus mengkomparasikannya dengan bahasa-bahasa Semit
lainnya merupakan salah satu pengagum setia karya-karya Marash.
Menginjak masa Renaissance, image buruk Barat
terhadap Islam terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai
karya setan. Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan
mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman Pencerahan Barat, Voltaire
menganggap Muhammad sebagai fanatik, ekstremis, dan pendusta yang paling
canggih. Biografi Rasulullah SAW beserta al-Quran terus menjadi target
Hal ini terus berlanjut hingga di era kontemporer. Orientalis
kontemporer tetap mengusung gagasan orientalis klasik sekalipun dengan kadar,
level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari
kenabian Muhammad dan kebenaran al-Quran. Penolakan seperti itu adalah common
places dalam pemikiran para orientalis. Ini bisa dimengerti karena
eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga,
wajar jika kajian mereka kepada Rasulullah SAW dan al-Quran tidak dibangun dari
keimanan, sebagaimana sikap seorang Muslim.
Para orientalis peminat kajian Quranic Studies sejak Ignaz
Goldzhier, D.S Margoliouth, Alfonso Mingana, DB MacDonald, Theodore Noldeke,
hingga R.L Nicholson, H.A.R Gibb, A.J Arberry, Richard J McCarthy, Harry A
Wolfson, Shlomo Pines, dan lain-lain mempunyai framework yang hampir sama. Di
antara asumsi yang umum mereka pegang erat-erat adalah bahwa Al-Quran bukanlah
wahyu dari Allah, melainkan rekaan Muhammad yang dia nukil dari Injil dan
Taurat, dengan tujuan untuk mengambil keuntungan dari bangsa Arab yang bodoh.
Mahmud Zaqzuq menggarisbawahi bahwa meskipun mayoritas orientalis
memang memandang Islam dengan kacamata kebencian, namun demikian kita tidak
dapat melakukan generalisasi begitu saja, karena ada beberapa orientalis yang
dapat kita kategorikan sebagai orang-orang netral. Riset mereka terhadap Islam
murni dilatar belakangi oleh motivasi ilmiah. Mereka nampak lebih objektif
dalam meneliti Islam. Hasil-hasil penelitian mereka sedikit banyak turut
menyumbangkan kontribusi penting dalam pengkayaan khazanah keilmuan Islam[8].
Metodologi para Orientalis dalam Quranic Studies
Riset kajian para orientalis terhadap Islam -pada umumnya- dan
Al-Quran - secara khusus- banyak dilatar belakangi oleh kepentingan yang
beragam. Dalam berbagai kesempatan, metode yang digunakan para Orientalis
tersebut berbanding lurus dengan tujuan semula riset tersebut dilakukan. Bagi
mereka Orientalis yang concern terhadap Quranic Studies dengan motivasi
ilmiah cenderung lebih memperhatikan kaedah-kaedah metodologi riset ilmiah yang
berpijakan pada pengembanan amanat ilmiah, validitas data, ketepatan
interpretasi teks, koherensi antar premis, dan metode berpikir yang logis.
Hal ini tidak akan kita dapati pada karya-karya Ilmuwan Barat yang
mengemban misi-misi tertentu dalam penulisan buah penanya. Sebelum melakukan
riset, biasanya mereka cenderung mempunyai pra anggapan-pra anggapan di benak
mereka sendiri untuk kemudian didirikan sebuah bangunan argumentatif terhadap
dasar tersebut. Premis yang dibangun tidak dimaksudkan untuk menghasilkan satu
konklusi ilmiah namun sebaliknya untuk memperkuat pra konsepsi tersebut.
Argumen-argumen tersebut, meskipun lemah dan dianggap kurang otoritatif oleh
banyak kalangan namun tak menyurutkan langkah mereka dalam melakukan
interpretasi terhadap teks-teks pinggiran dan kemudian melakukan jumping
conclusion sesuai dengan kepentingannya. Mereka lalu mendaku bahwa metode
yang mereka gunakan adalah ilmiah, valid, sehingga dapat menghasilkan
kesimpulan yang objektif.
sebagaimana riset ilmiah yang dilakukan Jaston Vieet dalam buku
yang berjudul ‘Majd Al-Islam’ yang menceritakan tentang sejarah Islam.
Buku tersebut penuh dengan makian dan statement yang menyudutkan Islam.
Meskipun si penulis mengklaim bahwa ia memiliki sumber-sumber otoritatif namun
setelah ditelusuri ternyata ia hanya mengambil pendapat-pendapat lemah yang
sesuai dengan kepentingannya saja.[9]
Begitu pula tuduhan-tuduhan lain yang mengatakan Al-Quran bukanlah
wahyu Illahi. Ia tak lain adalah karya Muhammad hasil dari imajinasi liarnya.
Tuduhan ini, nampak pada sebagian besar buku-buku karya Orientalis. Misalnya,
dapat dilihat pada ‘Preliminary Discourse’ anggitan G. Sale (1899) yang
menyatakan bahwa “... Tidak diragukan lagi, Muhammad adalah penulis asli
Al-Quran”[10].
Tuduhan serupa dilontarkan oleh Sir William Muir (1905), Champion dan Short
(1959), Glubb (1970), dan Robinson (1977). Sebelumnya, Menezes (1911) dalam
buku ‘The Life and Religion of Mohamed: The Prophet of Arabia’ menyebutkan
bahwa “Tidak ada satu apapun dalam Al-Quran itu selain ciptaan dan rekaan
Muhammad dan para sahabatnya”. Hasil pembacaan terhadap Al-Quran terjemahan
Stobbart, Bell (1926) dalam bukunya ‘The Origin of Islam and Its Christian
Environment’ menyimpulkan bahwa “Al-Qur’an itu mungkin telah ditulis oleh
seseorang Arab yang telah terbiasa dengan sejarah Yahudi dan tahu tradisi
sejarahnya sendiri serta memiliki sedikit kemahiran kepenyairan”[11]
Suatu aktifitas riset ilmiah murni tidak akan dibarengi dengan
cemoohan. Metode riset ilmiah mengedepankan kejujuran dan validitas ilmiah,
kebenaran pisau analisa yang dipakai. Celah ilmiah yang sering dilupakan oleh
para orientalis adalah dipicu dengan motivasi menguliti Islam. Mengatasnamakan
riset ilmiah mereka acap mencari-cari hadist-hadist dhoif, kabar burung, dan
catatan-catatan sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
mereka acap acuh terhadap kabar-kabar riwayat lain yang memiliki pijakan
argumentatif yang lebih kuat apabila kabar tersebut bertentangan dengan
kepentigannya.
Al-Quran dan Orientalisme
Dari pendahuluan singkat diatas, nampak bahwa kecenderungan
orientalis yang melakukan serangan terhadap islam mengantarkan mereka pada satu
asumsi dasar, bahwa cara terbaik untuk menaklukkan Islam adalah dengan
melakukan serangan kepada sumber utama dari Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an.
Mereka menyadari bahwa pemikiran umat Islam dibangun dari ajaran-ajaran
Al-Qur’an. Untuk memuluskan langkahnya, para Orientalis berniat melakukan
kajian mendalam terhadap Al-Qur’an. Arah dan varian kajian mereka beragam,
tergantung dari motivasi dan kepentingan yang melatarbelakanginya. Orientalis
yang menjadi tangan kanan gerakan kolonialisme pemerintah akan memusatkan
kajian untuk mengakomodir kepentingan tuannya. Sementara mereka yang objektif
akan melakukan pendalaman studinya dengan timbangan-timbangan ilmiah.
Orientalisme Dan Kritik Teks Al-Quran
Ada 3 varian umum yg berkembang seputar diskursus A;-Quran. Pertama
adalah pandangan yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah, sehingga
pendekatan yang digunakan dalam melakukan pemaknaan adalah dengan membiarkannya
berbicara apa adanya, penerimaan bulat-bulat tanpa adanya kritisisme lebih
lanjut. Kedua adalah mereka yang menjatuhkan vonis bahwa Al-Quran
bukanlah pesan Ilahiah dan ia adalah bikinan Muhammad. Pendapat ini digunakan
oleh para orientalis radikal. Dalam melakukan riset, umumnya mereka sudah
mempunyai asumsi lebih dahulu sehingga penelitian yang mereka lakukan tak
ubahnya seperti membangun data-data argumentatif dari kesimpulan yang sudah
mereka tetapkan. Ketiga adalah para peminat kajian ilmiah seputar
Al-Quran. Mereka adalah para Ilmuwan yang tertarik mengkaji Al-Quran dengan
motivasi kajian keilmuan. Mereka lebih objektif dalam memandang Al-Quran,
karena mereka melakukan riset terlebih dahulu sebelum menelurkan kesimpulan.
Sehingga hasil kajian mereka banyak diterima oleh semua kalangan.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa contoh dari tuduhan orientalis
terhadap Al-Qur’an:
1. Kritik Otentisitas teks Al-Quran
Ada semacam common platform diantara para orientalis yang
menyebutkan bahwa otentisitas Al-Quran patut dipertanyakan. Mereka menuduh
bahwa Al-Qur’an bukanlah firman Allah yang azali, melainkan karya rekaan
Muhammad dan para pengikutnya. Untuk mendukung gagasan ini, maka dibangunlah
banyak argumentasi-argumentasi ‘logis’ yang bisa dijadikan acuan untuk mencapai
misi mereka.
Nampaknya ide ini bertitik pangkal dari rasa sakit hati mereka atas
statement tegas dalam Al-Quran yang terang-terangan mencela keyakinan mereka.
Kritikan-kritikan Al-Quran yang mendakwa Taurat dan Injil sebagai kitab samawi
yang tak lagi otentik membuat mereka kebakaran jenggot, yang akhirnya
membuatnya ingin melakukan hal yang sama pada Al-Quran dengan berusaha
memperlihatkan bahwa Al-Quran itu sendiri juga tidak otentik. Mereka berusaha
menggunakan senjata yang sama digunakan Al-Quran ketika mengkritik kalangan
Yahudi-Nasrani.
Pertama kali yang dikritik Orientalis adalah pijakan referensial
yang digunakan Muhammad dalam Al-Quran. Karena mereka menolak premis bahwa
Al-Quran adalah ‘Devine Message’ dari Allah, maka mereka berargumen
Muhammad adalah pengarang Al-Quran. George Sale (1736) mengatakan “Bahwa tidak
diragukan lagi Muhammad adalah pengarang Al-Quran”.[12]
Pandangan yang sama datang dari Richard Bell. Dia berujar “Penyusun Al-Quran
adalah Muhammad. Ia menyusunnya dengan berpedoman pada Bibel, khususnya
Perjanjian Lama bagian kisah-kisah. Sebagian cerita mengenai kehancuran
bangsa-bangsa terdahulu seperti Ad, Tsamud diambil dari sumber-sumber Arab.
Namun mayoritasnya berpegangan pada sumber-sumber tradisi Judeo-Christian. Hal
itu terjadi lantaran ketika Muhammad berada di Madinah terjadi interaksi yang
cukup intens dengan Kaum Nasrani dan Yahudi. Dari sanalah Muhammad mendapatkan
informasi mengenai kisah-kisah dalam Perjanjian Lama”. Seirama dengan lainnya,
Loth menambahi bahwa diskursus ‘fawatih suwar’ adalah pinjaman dari
tradisi Yahudi[13].
Sementara mengenai pengaruh dominasi kekristenan pada ajaran Islam,
Bart mengasumsikan bahwa di Mekkah-Madinah pada zaman Nabi penuh oleh
sekte-sekte heretik sempalan Kristen. Dogma dan landasan teologis yang mereka
anut berbeda dengan kekristenan yang sebenarnya. Seperti oknum Trinitas
tidaklah terdiri dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus tetapi Allah, Isa, dan Maryam.
Dan Muhammad mengambil sumber informasi tersebut dari mereka. Itulah mengapa
gambaran oknum trinitas yang ada dalam Al-Quran sangat berbeda dengan tradisi
Kekristenan pada umumnya.
Selain itu apabila kita melakukan studi komparasi atas kisah-kisah
Al-Quran dengan yang kita temukan pada Perjanjian Lama akan nampak bahwa
terdapat perbedaan esensial diantara keduanya. Apabila kisah-kisah Al-Quran
dinarasikan dengan tujuan utama agar umat Islam menarik jalinan hikmah yang
terajut di dalamnya. Disamping itu Al-Quran meriwayatkan kisah-kisah yang
rasional, manusiawi dan menjunjung tinggi nama baik Orang-orang suci.
Sementara itu riwayat-riwayat Perjanjian Lama biasanya cenderung
mistis, irasional, penuh dengan takhayul dan khurafat, memperlakukan para Nabi
suci dengan tidak senonoh serta tidak mengandung saripati hikmah yang dapat
diambil.[14]
Seperti misalnya kisah tentang Nabi Luth (Lot) yang memenangi pergulatan dengan
Tuhan. Ia juga dituduh telah berbuat mesum dengan kedua anaknya sendiri. Nabi
Daud yang digambarkan sebagai orang licik yang mata keranjang. Ia memperalat
panglimanya sendiri agar dapat mengawini istrinya. Demikian pula Nabi Ya’kub
(Jaqob) yang dituding mengutuki putranya sendiri karena merasa ditipu[15].
Jamak juga diketahui bahwa banyak orientalis yang membesar-besarkan
pertemuan Nabi dengan Rahib Syria, Buhaira. Muhammad mengambil referensi
penyusunan Al-Quran dari sana. Sebenarnya dasar dari argumen ini sangatlah
lemah, karena disamping pertemuan itu terjadi hanya sekali dan ketika itu Nabi
masih sangat muda sekali, sehingga untuk mengatakan Nabi mendapatkan pengaruh
yang cukup besar dari sana sangatlah tidak masuk akal. Begitu juga tidak
ditemukan mata rantai periwayatan (isnad) yang valid yang menyebut Nabi
mendapat cukup banyak informasi dari perjumpaan tersebut. Salah seorang
orientalis, Howard juga mengakui kelemahan argumen tersebut[16].
Rasyid Ridho, cendekiawan Mesir sekaligus murid pemikir brilian Muhammad
Abduh menambahkan bahwa informasi-informasi yang disajikan oleh Al-Quran jauh
lebih komplit, akurat, dan otoritatif ketimbang apa yang dikemukakan Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru. Al-Quran datang dengan memberikan kritik tajam dan
koreksi-koreksi terkait berbagai diskursus yang dipersengketakan oleh Ahlu
Kitab (Pengikut Yahudi-Kristen), seperti wacana kelahiran Yesus, penyaliban,
ajarannya, dan lain sebagainya[17].
2. Al-Quran dan 7 Varian Bacaan
Selanjutnya, para orientalis banyak berbicara mengenai kontroversi
seputar varian bacaan dalam Al-Quran. Mereka menuduh bahwa variasi bacaan
muncul di zaman penuh kebebasan, sehingga setiap orang berhak membaca Al-Quran
semaunya dan sekehendak hatinya. Adanya perbedaan dialek diantara suku-suku
bangsa Arab adalah salah satu faktor yang, menurut anggapan orientalis membuat
setiap suku berhak membacanya sesuai dengan dialek mereka masing-masing.
Mereka berpikir bahwa pembacaan Al-Quran adalah ‘qiraat bil makna’.
Mereka mendasarkan pendapat ini pada riwayat lemah yang konon berasal dari
Nabi; “Bacalah Al-Quran dan jangan mempersulit diri, kamu berhak membacanya
sesukamu asalkan kamu tidak sampai menukar ayat-ayat rahmat dengan adzab dan
ayat-ayat adzab dengan rahmat”.
Teori ‘Qiraah bil makna’ ini -menurut klaim orientalis-
muncul pada zaman Umawiyah, dan umat Islam menerimanya dengan legowo karena
bagi mereka yang terpenting adalah ‘substansi teks’, dan bukan ‘bentuk teks’. Dari
sini mereka berpikir bahwa pembacaan Al-Quran adalah bebas. Dan sebagai
konsekuensi logisnya adalah terjadinya perubahan teks-teks Al-Quran yang
diakibatkan adanya campur tangan manusia.
Demikian, sehingga pada akhirnya diskursus huruf 7 diserahkan pada
keinginan personal masing-masing individu, sehingga dengan demikian ragam
bacaan yang ada akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya zaman.[18]
Memang, perbedaan varian bacaan Al-Quran memang merupakan hal yang
ada persedennya dalam Islam. Para Ulama pun sepakat bahwa Al-Quran diturunkan
dengan 7 huruf (sab’ah ahruf) berdasarkan riwayat sahih dari Nabi yang
menyatakan demikian. Ini bertujuan untuk meringankan beban para sahabat yang
berasal dari luar kabilah Quraisy yang mempunyai dialek yang benar-benar
berbeda. Namun satu hal yang patut kita cermati bahwa adanya 7 huruf tersebut
bukan berarti memberikan kebebasan penuh kepada siapa saja untuk membaca
Al-Quran sesuka hatinya. Ketujuh huruf Al-Quran tersebut harus didapatkan
dengan jalan ‘talaqqi syafahi’ langsung dihadapan Nabi. Andai saja
memang demikian apa yang didakwakan para Orientalis tersebut -setiap individu
berhak membaca Al-Quran menurut kehendak pribadi tanpa adanya sanad mutawattir
dari Nabi- maka jumlah qiraat yang dapat ditampung oleh mushaf Ustmani
meliputi 16110 bacaan[19].
Ilmu qira'at yang benar (ilmu seni baca AI-Qur'an secara tepat)
diperkenalkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri, suatu praktik (sunnah) yang
menunjukkan tata cara bacaan setiap ayat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan
kewahyuan AI-Qur'an: Teks Al-Qur'an telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan
dan dengan mengumumkannya secara lisan pula berarti Nabi Muhammad saw. secara
otomatis menyediakan teks dan cara pengucapannya pada umatnya. Kedua-duanya
haram untuk bercerai.
‘Umar dan Hisham bin Hakim ketika berselisih bacaan tentang
sepotong ayat dalam Surah al-Furqan walaupun pernah sama-sama belajar langsung
dari Nabi Muhammad saw., ‘Umar bertanya pada Hisham siapa yang telah
mengajarnya. Dia menjawab, "Nabi Muhammad”. Kejadian serupa dialami oleh
Ubayy bin Ka'b. Tidak ada seorang sahabat yang berani mengada-ada membuat
silabus sendiri. Semua bacaan sekecil apa pun merupakan hasil dari musyafahah
langsung dengan Nabi.[20]
Di sinilah peran mata rantai periwayatan sangatlah urgen. Tradisi
sanad merupakan salah satu pilar sentral dalam mempertahankan otentisitas sabda
Tuhan, baik dari segi lafadznya (lafdhan)
ataupun maknanya (ma’nan). Dengan demikian tidaklah tepat apa yang
didakwahkan orientalis Placer bahwa ide kodifikasi wahyu baru menyeruak tatkala
Nabi berada di Madinah.
Sementara kenyataan riil di lapangan menyebutkan bahwa Nabi selalu
menyuruh para sahabatnya untuk mencatat wahyu-wahyu yang diterima, sehingga
tidak heran bahwa jumlah sekertaris Nabi yang bertugas mencatat wahyu mencapai
29 orang, diantaranya; Zaid bin Tsabit, Khalifah 4, Muawiyah, Said bin Ash,
Zubair bin Awam, Amr bin Ash, Ubay bin Ka’ab.
Selain itu, Nabi sendiri setiap satu tahun sekali selalu membacakan
Al-Quran di hadapan Jibril, sehingga apabila terdapat kesalahan bacaan maka
akan langsung dapat dikoreksi oleh Jibril. Bahkan di tahun wafatnya, Jibril
mengoreksi bacaan Al-Quran Nabi sebanyak 2 kali setahun. Ini menandakan bahwa
Wahyu Al-Quran memang dijaga betul otentisitasnya oleh Allah Taala, suatu
keistimewaan yang tak didapati kitab-kitab samawi sebelumnya.
Penyebab Utama Munculnya Variasi Bacaan Dalam Perspektif Orientalis
Arthur Jeffery, seorang orientalis yang berupaya gigih membatalkan otentisitas Al-Quran, memandang
ada dua faktor yang ditengarai sebagai penyebab utama munculnya ragam bacaan
Al-Qur’an. Pertama adalah ketiadaan tanda baca (titik). Dalam bukunya, The
Textual History of the Quran, ia mengatakan “Kekurangan tanda titik dalam
Mushaf `Uthmani berarti merupakan peluang bebas bagi pembaca memberi tanda
sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami. Jika ia menemukan kata
بعلمهtanpa tanda titik boleh saja dibaca:
يعلمه, تعلمه, نعلمه,
Sehingga dalam Al-Quran kata : وما كنتم تستكبرون boleh dibaca وما كنتم تستكثرون
atau اذا
ضربتم فى سبيل الله فتبينوا boleh dibaca اذا ضربتم في سبيل
الله فتثبتوا
Kedua, ketiadaan tanda diakritikal (tanda pengenal/
harakat). seperti contoh diatas.
Prof. Azami sangat tidak sependapat dengan
argument diatas: “Tampaknya
Jeffery benar melupakan tradisi pengajaran secara lisan, satu mandat atau
perintah yang hanya melalui seorang instruktur kelas kakap, ilmu Islam dapat
diperoleh. Banyak sekali ungkapan Al-Qur an yang dapat secara kontekstual
memasukkan lebih dari satu titik dan tanda diakrikital, tetapi dalam banyak
hal, seorang ilmuwan hanya membaca dengan satu cara. Ketika perbedaan muncul
(dan ini sangat jarang terjadi) kedua kerangka bacaan tetap mengacu pada Mushaf
‘Uthmani, dan tiap kelompok dapat menjustifikasi bacaannya atas dasar otoritas
mata rantai atau silsilah yang berakhir pada Nabi Muhammad saw. Atas dasar ini
kita dapat menyingkirkan tiap pembaca yang memberi pendapat nyleneh ingin
memasukkan titik dan tanda diakritikal menurut selera keinginan dirinya.
Walaupun telah banyak fakta dalam teori mereka, hendaknya mau mempertimbangkan
jumlah pembaca dan ribuan kerangka (naskah) yang dapat dibaca melalui empat
atau lima cara; Jumlah perbedaan tidak mencapai angka ratusan ribu atau mungkin
jutaan. Ibn Mujahid (w. 324 H.) menghitung, seluruh Mushaf semuanya hanya ada
kira-kira satu ribu multiple bacaan saja. Membandingkan teori dengan kenyataan
ini hanya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis mereka”.[21]
Kemudian ia mengajukan contoh daftar
ayat-ayat Al-Quran yang berpotensi untuk dibaca dengan beragam varian, namun
pengajaran Nabi hanya mengijinkannya untuk dibaca dengan 1 atau 2 variasi saja.
·
وان
يروا سبيل الرشد
·
وهيئ
لنا من أمرنا رشدا
·
لأقرب
من هذا رسدا
·
ان
تعلمن مما علمت رشدا
·
يهدي
الى الرشد
·
أم
أراد بهم ربهم رشدا
·
فأولئك
تحروا رشدا
·
لاأملك
لكم ضرا ولا رشدا
“Secara
kosakata (leksikografi) kedua-dua bentuk adalah sah pada setiap kasus. Secara
literal ada ribuan contoh di mana kedua-dua bentuk kata secara kontekstual
adalah sah tetapi hanya satu yang dipakai secara kolektif; jadi sebenarnya
banyak lagi contoh yang sama dengan yang mereka kemukakan dan malahan
mengungguli teori Jeffery dan Goldziher. Setelah meneliti hipotesis keduanya dan menganggap bukti
yang tepat, tampaknya tak ada cara lain kecuali meletakkan teori mereka ke
pinggiran. Perbedaan yang mereka prediksi sekarang telah diketahui, dalam
contoh yang banyak (tidak terkira) di mana sebuah kerangka huruf dapat menerima
lebih dari satu set tanda titik dan diakritikal sesuai dengan konteksnya;
masalah yang jarang terjadi di mana perbedaan yang diakui dalam qira'at tidak
akan membawa pengaruh terhadap makna teks. Goldziher sendiri mengakui ini,
sebagaimana pula Margoliouth: ‘Dalam banyak masalah ketidakjelasan skrip yang
mengakibatkan bacaan ragam bacaan sangat sedikit sekali konsekuensinya”.[22]
3. Kontroversi Mushaf Ibnu Mas’ud
Ada kontroversi yang berkembang di kalangan
orientalis bahwa mereka menemukan riwayat yang menyatakan bahwa Ibnu Mabs’ud,
seorang sahabat besar ahli qiraat ditengarai memiliki mushaf yang
berbeda dengan mushaf Ustmani. Mushaf ini, selain memiliki tingkat ragam bacaan
yang tinggi juga mempunyai urutan susunan surat yang berbeda dengan mushaf
Ustmani serta tidak memasukkan tiga surat ke dalamnya.
Terkait dengan susunan mushaf yang berbeda
dengan mushaf Ustmani, ternyata para orientalis menyandarkan argumennya pada
riwayat yang dinukil dari Ibnu Nadim, mengutip dari al-Fadl bin Shadhan,
"Saya melihat susunan surah dalam Mushaf Ibn Mas'ud sebagai berikut:
al-Baqarah, an-Nisa', `Ali `Imran...[yaitu, tanpa al-Fatihah]."
Prof. Azami mengomentari pendapat tersebut:
“Mengenai Mushaf Ibnu Mas’ud, kita menemukan dua riwayat silang: yang pertama menyebutkan bahwa
susunan surah berlainan dengan yang kita miliki, sementara yang lain mengatakan
sama. Yang pertama gagal mencapai kesepakatan mengenai urutan surah, dan
ternyata riwayat ke dua jauh lebih meyakinkan. Tentunya versi yang lebih
konkret akan lebih menarik perhatian kita. Al-Qur'an
memperjelas apa yang pernah ia lihat tentang Mushaf Ibn Mas'ud, Ubayy, dan Zaid
bin Thabit, dan melihatnya tidak terdapat perbedaan.
Sementara terkait masalah teks yang berbeda
dengan mushaf Ustman, beberapa riwayat yang dijadikan landasan argument para
orientalis tersebut bersumber dari alA'mash (w. 148 H.). AI-A'mash bukan saja
tidak memberi referensi untuk hal itu - dan yang lebih mengejutkan, kesukaannya
melakukan tadlis (menggelapkan sumber infotmasi) - ia juga dianggap
memiliki kecenderungan terhadap Syiah.[23]
Ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan
bahwa Ibnu Mas’ud tidak memasukkan 3 surat ke dalam mushafnya, surat
Al-Fatehah, Al-Nas dan Al-Falaq. Riwayat dari AI-A'mash-Abu
Islury-'Ahdur-Rahman bin Yazid: Ibn Mas'ud mcnghapus surat Mu'awwidlatain
(surah 113 and 114) dari Mushafnya dan mcngatakan bahwa keduanya bukan bagian
dart Al-Qur'an.
Ibn 'Uyaynah-`Abdah dan `Asim-Zirr:
"Saya berkata pada Ubayy, 'Saudaramu menghapus surah 113 dan 114 dari
Mushafnya', yang mana ia tidak menolaknya. Ketika ditanya apakah yang
dimaksudkan itu adalah Ibn Mas'ud, Ibn `Uyaynah menjawab dengan nada pasti dan
menambah bahwa kedua surah itu tidak ada dalam Mushafnya karena ia menganggap
sebagai doa perlindungan Ilahi yang digunakan oleh Nabi Muhammad untuk cucunya al-Hasan dan al-Husain. Ibn
Mas'ud tetap tidak mengubah pendiriannya, sementara yang lain yakin dan memasukkannya
ke dalam AI-Qur'an.[24]
Ibnu Hajar menganggap riwayat ini sebagai
tuduhan bohong kepada Ibnu Mas’ud. Al-Thabari, Ibnu Hambal menyatakan bahwa
barang siapa yang mengingkari seluruh atau sebagian isi dari Al-Quran maka ia
telah murtad dari agamanya.[25]
Al-Baqillani sendir sampai pada kesimpulan
menyeluruh dan meyakinkan dalam menafikan laporan miring seperti tersebut di
alas. la menyatakan bahwa siapa yang menolak surah tertentu yang merupakan
bagian dari Al-Qur an, maka ia dianggap murtad atau fasik. Jadi salah satu
sifat ini akan terkena pada Ibn Mas'ud kalau riwayat itu benar adanya. Dalam
banyak hadith, Nabi Muhammad memuji
kesalehannya dan tidak mungkin berbuat macam macam. Orang-orang yang hidup sezaman
dengan Ibn Mas'ud juga berkewajiban, kalau mereka melihat sesuatu yang
mencemarkan kepercayaannya, mengungkapkannya sebagai penyeleweng atau fasik.
Namun faktanya, mereka yang hidup sezaman dengannya sepakat dalam memuji
keilmuan yang dimiliki tanpa satu orang pun yang berseberangan. Dalam pandangan
al-Baqillani, keadaan itu hanya mempunyai dua implikasi: kemungkinan Ibn Mas'ud
tidak pernah menolak status sebenarnya mengenai surah itu, atau para ilmuwan
yang mengenalnya lalai dalam mengidentifikasi status riwayat tersebut.[26]
Kesaksian para Orientalis Netral
Salah satu kesaksian yang paling terkenal di kalangan orientalis
adalah pengakuan salah seorang orientalis terpandang, Montgommery Watt. Dibandingkan
dengan rekan-rekannya sesama orientalis Watt terlihat lebih objektif saat
mengkaji Islam. Dalam bukunya, Islamic Revelation in The Modern World
Watt bertutur banyak tentang Islam. Buku tersebut ditulis selain berdasarkan
hasil riset ilmiah, juga merupakan hasil refleksi personal Watt dalam memandang
Islam. Mengenai Al-Quran Watt berpandangan bahwa Al-Quran adalah kalam Tuhan
yang ‘diletakkan’ malaikat ke dalam ruang bawah sadar Muhammad (unconscious).
Dari pengetahuan di alam bawah sadar inilah ‘kata-kata’ Tuhan itu muncul dalam
alam kesadaran Muhammad. Yang jelas bagi Watt, pengalaman Muhammad dalam
menerima wahyu sangat beragam. Pertama Muhammad sadar bahwa kata-kata itu
‘hadir dalam hati’ atau pikiran yang sadar. Kedua, ayat tersebut bukan hasil
‘pemikiran sadar’ Muhammad dan ketiga, ayat itu ditempatkan dalam pikirannya
oleh Malaikat. Karena itu Muhammad percaya bahwa kata-kata itu barasal dari Tuhan.
Ini berarti bahwa penegasan Islam tentang al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang
diberikan kepada Muhammad diterima juga oleh Watt. Al-Qur’an tidak di anggap
sebagai produk kesadaran Muhammad, melainkan produk Tuhan yang menyapa alam
bawah sadar Muhammad sehingga memantiknya keluar ke dalam kesadaran Nabi.[27]
Orientalis lain yang terhitung netral dalam melakukan kajian
mengenai Islam adalah Karen Armstrong, mantan biarawati, lahir di Wildmoor,
Worcestershire, England, 14 November 1944 menulis buku tentang Judaisme,
Kristen, Islam dan Buddhisme. Dia terlahir dari keluarga keturunan Irlandia
yang pindah ke Bromsgrove lalu Birmingham. Ia menguasai teori agama
fundamentalis yang merupakan jawaban dan produk dari budaya modern.
Karen Armstrong menyatakan bahwa di dalam Al Qur’an, Tuhan berbicara langsung dengan orang Makkah menggunakan Muhammad
sebagai juru bicara-Nya, persis seperti nabi-nabi Ibrani di dalam kitab suci
Yahudi. Maka, bahasa Al Qur’an itu sakral karena kaum Muslim percaya.
Al Qur’an merekam kata-kata yang diucapkan dengan cara tertentu oleh
Tuhan sendiri. Ketika para pengikut Muhammad mendengarkan suara Tuhan, yang
pertama dilantunkan oleh Nabi dan kemudian oleh pembaca Al Qur’an yang terlatih seolah-olah merasakan pertemuan langsung dengan
Allah. Seperti setiap kitab suci lain, Al Qur’an dengan demikian menghadirkan perjumpaan dengan yang
transenden, menjembatani jurang yang amat lebar antara dunia jasad kita yang
lemah dan Tuhan.
Al Qur’an, menurut Karen Armstrong yang paling besar dari semua tanda adalah Al Qur’an itu sendiri, yang bagian terkecilnya disebut ayat, mempunyai gaya bahasa yang padat, penuh kiasan dan ungkapan-ungkapan tidak langsung.
Al Qur’an, menurut Karen Armstrong yang paling besar dari semua tanda adalah Al Qur’an itu sendiri, yang bagian terkecilnya disebut ayat, mempunyai gaya bahasa yang padat, penuh kiasan dan ungkapan-ungkapan tidak langsung.
Armstrong lebih lanjut juga mengatakan bahwa
Al-Quran menggiring kesadaran kaum Quraisy untuk berpaling dari adat-istiadatnya
yang bodoh, tak banyak menggunakan akal dan acap merendahkan nilai-nilai
kemanusiaan. Al-Quran selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam
menguraikan ‘tanda’ atau ‘pesan’ dari Tuhan. Kaum Muslim tidak boleh
merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati alam dengan penuh perhatian dan
keingintahuan. Sikap inilah yang membuat umat muslim generasi berikutnya mampu
membangun tradisi ilmu pengetahuan yang baik, yang tak pernah dianggap sebagai
ancaman terhadap agama sebagaimana yang terjadi di dunia Kristen.
Dengan mendekati Al-Quran dalam cara yang benar,
kaum Muslim mengakui bahwa mereka betul-betul mengalami rasa transendensi,
tentang realitas dan kekuatan tertinggi di balik fenomena dunia fana yang
rentan dan sementara.
Al-Quran juga membawa pesan moral yang bertujuan
menciptakan masyarakat adil dan setara di mana orang-orang miskin dan lemah
diperlakukan secara layak. Janganlah menimbun kekayaan dan mencari keuntungan
bagi diri sendiri, tetapi bagilah kemakmuran secara merata dengan menyedekahkan
sebagian harta kepada fakir miskin. Ini adalah pesan universal Tuhan kepada
hamba-Nya untuk mewujudkan kesentosaan universal bagi seluruh umat manusia.[28]
Walaupun terlihat seperti liliput yang menentang
arus besar pemikiran koleganya sesama orientalis, namun jerih payah Watt dan
Armstrong layak mendapat apresiasi. Pembacaan mereka secara jujur terhadap
Islam dapat dikatakan sebagai entry point menuju ruang dialog antar
agama (inter religious dialogue) yang bertendensi untuk mewujudkan
toleransi seluas-luasnya antar pemeluk agama yang berbeda. Bukankah agama
memang diturunkan kepada manusia untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan,
bukan kekerasan dan pertumpahan darah.
Epilog; Orientalisme, Hendak kemana?
Dari elaborasi singkat yang kami paparkan diatas, dapatlah kita
garis bawahi hal-hal berikut;
1.
Dalam
kajiannya tentang Islam, Orientalisme, sepanjang episode sejarahnya yang
membentang ditinjau dari segala macam aspeknya, tak pernah lepas dari motivasi
awalnya melakukan studi tentang Islam. Benar, apabila di era kontemporer saat
ini sudah mulai banyak orientalis yang bersikap netral dalam kajiannya mengenai
Islam. Motivasi mereka melakukan riset tentang Islam adalah murni aktifitas
ilmiah. Seperti diuatarkan Bart: “Bahwa fenomena orientalisme sejak pertengahan
abad 19 bergerak ke arah yang menggembirakan, dimana motivasi utama yang
melatarbelakangi ilmuwan Barat mengambil studi tentang Islam adalah motivasi ilmiah”.
Para peminat kajian Islam seperti Karen Amstrong, Annemarie Schimmel, Maurice
Buchaile, dan lainnya dapat dikatakan sebagai orientalis yang memandang wajah
Islam dengan kacamata positif. Namun patut dicatat, orang-orang seperti mereka
bisa disebut minoritas orientalis di
tengah ribuan lainnya yang tetap pada pandangan klasik, bersikap sinis terhadap
Islam.
Mereka
masih belum bisa membebaskan dirinya dari ego superioritas teologi
Kristen-Barat atas Timur-Islam. Ada semacam pandangan tak sadar yang bersemayam
di benak sarjana Barat bahwasanya terdapat suatu dikotomi antara peradaban
Kristen-Barat dan Timur-Islam.
Barat
selalu dikesankan sebagai sebuah prototype peradaban unggul, superior,
rasional, sementara Timur dianggap hanya sebagai peradaban lemah, inferior,
serta dipenuhi dengan mitos dan legenda. Paradigma biner semacam inilah yang kemudian mendorong Barat
merasa layak untuk menganeksasi Timur-Islam, baik secara fisik maupun
kebudayaan. Walhasil, pandangan eurosentrisme perlahan mulai didaku sebagai
pandangan absah dalam bermacam ragam dimensi kemanusiaan, termasuk dalam kajian
ketimuran itu sendiri (orientalisme). Sejarah umat manusia adalah sejarah
manusia Eropa, Nilai-nilai humanistik hak asasi manusia adalah seperti apa yang
dicanangkan Eropa, demikian juga standar baku kebenaran suatu riset kajian
harus membebek pada hasil riset yang dihasilkan oleh ilmuwan Barat, termasuk
riset mengenai teologi Islam, Al-Quran, dan Kebudayaan Arab-Islam itu sendiri.
Tentunya
masih segar dalam ingatan kita, Paus Benedictus XIV, pemimpin tertinggi umat
Katholik sedunia pernah menuduh bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan
pemaksaan. Bahwa ayat ‘laa ikraha fi al-din (tidak ada paksaan dalam
agama)’, menurut Paus asal adalah ayat yang turun pada fase Mekkah, saat
kondisi umat Islam masih sangat lemah. Sontak pernyataan Paus yang menggantikan
Paus Johannes Paulus II yang ramah terhadap Islam tersebut mendapat protes
cukup keras dari umat Islam sedunia. Reaksi yang pada akhirnya memaksa sang
Paus untuk meminta maaf pada umat Islam dan menarik pernyataannya.
2.
Para
orientalis menyamakan ajaran Islam dengan realitas umat Islam saat ini.
Kemunduran umat Islam saat ini ditengarai akibat dari kemandulan Islam dalam
memberdayakan pengikutnya. Mereka membandingkan dengan kemajuan yang dicapai
Eropa adalah berkat proses sekulerisasi dan liberalisasi di segala bidang. Dan
bahwa agama tidak diijinkan tampil di ruang publik. Ia dikebiri sedemikian rupa
sehingga dibatasi menjadi sekadar ajaran tentang ritus-ritus ibadah formal
saja. Islam yang hakiki, menurut salah seorang orientalis kontemporer, Kissling
adalah yang ada pada ajaran tarekat-tarekat sufi dan bersemayam di antara
tarian-tarian mistik para darwis.[29]
3.
Orientalis
selalu berusaha mengais penafsiran-penafsiran pinggiran terhadap beberapa
diskursus yang sudah menjadi kesepakatan publik di kalangan umat islam. Mereka
berusaha menggelindingkan wacana yang pada akhirnya bertujuan untuk menggugat
otentisitas wahyu Illahi dalam Al-Quran. Ambil beberapa contoh seperti; diskursus
varian bacaan Al-Quran, kodifikasi mushaf Ustmani, otentisitas Al-Quran, Mushaf
Ibn Mas’ud dan masih banyak lainnya. Dalam semua diskursus tersebut para
orientalis selalu saja mendasarkan argumen mereka pada pijakan referensial yang
lemah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi mereka, tidaklah masalah
menggunakan sumber referensi lemah, asalkan tujuan utama untuk melemahkan umat
islam tercapai, cukup sudah.[30]
Maxim Rodinson mengisyaratkan hal tersebut, ia mengatakan: “Para
Orientalis tidak akan memandang Timur-Islam kecuali terhadap hal-hal yang ingin
mereka lihat. Mereka memberi perhatian lebih kepada pendapat-pendapat gharib
dan syadz yang selaras dengan kepentingannya. Mereka melakukannya
karena tidak ingin melihat Timur menyamai prestasi peradaban Barat. Itulah
alasannya mengapa mereka hanya mengambil pendapat yang sesuai dengan pemikiran
mereka dan memvonis lemah pendapat yang dianut mayoritas umat islam”.[31]
4.
Selain
menulis tentang Islam, banyak sekali orientalis yang juga menelurkan karya dari
penelitiannya seputar agama-agama Timur lain seperti Hindu, Budha, Konghucu dan
lain-lain. Satu yang menjadi pertanyaan disini adalah, mengapa tatkala menulis
tentang agama-agama tersebut mereka mampu bersikap objektif, sesuatu yang
jarang sekali kita dapati tatkala mereka menulis tentang Islam. Barangkali
hanya Islam satu-satunya agama yang terus saja mendapatkan serangan
bertubi-tubi dan berkepanjangan selama lebih dari 1 millenium.
Mungkin statement dari salah satu orientalis terkemuka, William
Muir bisa memberikan kita jawaban, “Sesungguhnya Al-Quran dan pedang Muhammad
merupakan musuh terbesar yang pernah eksis di dunia ini sampai sekarang. Hal
ini dikarenakan Islam adalah agama yang anti peradaban, kebebasan, dan
realitas”.
Pernyataan Muir tersebut diamini oleh Van Grunjebawn “Islam adalah
satu-satunya fenomena janggal yang tidak ada bandingannya di muka bumi ini.
Karena Islam adalah agama yang anti humanisme dan tidak mampu beradaptasi.
Islam adalah agama yang amoral, anti ilmu pengetahuan, dan agama otoriter”.[32]
Menurut John Esposito,[33]
seorang peneliti kebangsaan Amerika, bahwa kebencian masyarakat Barat terhadap
Islam dilatarbelakangi oleh semacam ketakutan personal (islamophobia) yang
melanda masyarakat Barat sendiri. Ia menemukan satu mitos yang mengakar kuat di
benak masyarakat Barat sejak lama. Itu adalah mitos Eouroarabia raya, suatu
mitos yang mendasari Barat menebarkan
aroma permusuhan kepada Islam. Mitos ini menyebutkan bahwa Eropa di masa
mendatang akan dikuasai oleh kaum muslimin. Ketakutan ini berlandaskan asumsi
bahwa ajaran Islam tidak selaras dengan nilai-nilai etika Barat. Dan Islam,
akan menjadi ideologi penguasa tunggal di Eropa melalui jalur imigrasi penduduk
dan bertambahnya angka kelahiran masyarakat muslim di Eropa. Mitos ini menjadi
semakin besar tatkala para akademisi semisal Bernard Lewis dan Frits Bolkestein
angkat suara dengan menyebutkan akhir abad 21 adalah masa dimana Eropa
seluruhnya akan menjadi muslim dan disana nanti akan berdiri Imperium
Euroarabia Raya. Mitos ini sangat tidak berdasar. Kenyataan di lapangan
menyebutkan, dari 450 juta penduduk Eropa saat ini hanya 4 % saja yang menganut
agama Islam. Itupun ditambah kenyataan bahwa dari jumlah tersebut, mayoritas
umat Islam di Eropa bukanlah muslim yang taat, mereka hanya Islam ‘abangan’
saja.
5.
Terakhir,
ada catatan sederhana yang tidak dapat kita lupakan. Bahwasanya peradaban
Barat, yang menahbiskan diri sebagai perpanjangan tangan dari tradisi
Kekristenan, ternyata dibangun diatas pondasi ajaran seorang laki-laki dari
Timur, yaitu Yesus dari Nazareth.
Pun
demikian, dengan ilmu pengetahuan yang sekarang didominasi oleh Barat, hadir
dari akumulasi unsur-unsur peradaban sebelumnya. Dan di sini, kecemerlangan
peradaban Arab-Islam memainkan peranan yang tidak sedikit dalam memberikan
sumbangsih pemikiran.
Ini
adalah realitas tak terbantahkan. Bahwasanya apa yang diklaim superioritas
Barat atas Timur-Islam tak lain adalah omong kosong. Keunggulan peradaban
Barat-Kristen atas Timur-Islam bukanlah disebabkan oleh faktor agama dan
ideologi. Rasionalisme, etos kerja, pola disiplin ketat, keuletan, dan kerja
keraslah yang membuat Barat mampu menegakkan supremasinya diatas
peradaban-peradaban lain.
Ironisnya,
mereka mendapatkan obor pencerahan tersebut dari warisan kaum Muslimin yang
tertinggal. Sehingga dari sini tidak salah apabila Malek Bennabi, pemikir
Al-Jazair menyebut kolonialisasi Barat atas negara-negara Islam adalah karena
umat Islam itu sendiri yang layak untuk dijajah (qabiliah lil isti’mar).
Dan itu adalah hukuman setimpal bagi umat islam karena telah meninggalkan
ajaran agamanya sendiri, atau meminjam seruan Syakieb Arslan; “Umat Islam
mundur karena mereka meninggalkan agamanya, dan Barat maju karena mereka
meninggalkan agamanya”. Wallah
A’lam.
Daftar Pustaka
Hamdi Zaqzuq, Al-Istisyraq wa Al-Khalfiah Al-Fikriah fi
Al-Shira’ Al-Hadlari, Kairo: Dar Al-Mannar, tt
Daniel J Sahas, John of Damascus on Islam: "The Heresy of
the Ishmaelites", Leiden: E. J. Brill, 1972
Naguib Al-Aqiqi, Al-Mustasyriqun, juz 1, Kairo; Darul Maarif
1981
Abdurahman Badawi, Difa’ an Al-Quran
Zakir Naik, Islam Menjawab Gugatan, Jakarta, Lintas Pustaka,
2004
Dr. Mahmud Madhi, Al-Wahyu Al-Qurani fi Al-Mandhur Al-Istisyraqi
wa naqduh, Alexandria: Darul Dakwah, 1996
Dr. Fadhal Abbas, Qadhaya Quraniyyah fi Al-mausu’ah al-Britania,
Jordania; Dar al-Basyir, tt,
Abdullah Darraz, Madkhal ila Al-Quran, Kuwait; Dar al-Qalam,
1974
Rasyid Ridha, Al-Wahyu al-Muhammadi, Kairo, 1354 H,
Dr. M. Jabal, Al-Radd ‘alaa Al-Mustasyriq Al-Yahudi Ignaz
Goldziher fi Matha’inih ala Al-Qiraat Al-Qur’aniyah, Tanta: Universitas
Al-Azhar, 2002
Masduki, Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 7, No. 2,
Juli-Desember 2008
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, terj. Bandung: Mizan, 2007
Prof. Dr. MM. Azami, The History of The Quranic Text, Terj.
Jakarta: Gema Insani, 2005
Edward Said, Orientalisme,
Dr. Musthofa Syarief, Al-Islam wa Al-Hadatsah, Kairo: Dar
Al-Syuruq, 1995, hlm. 83
