Pendahuluan
Berber
adalah etnis grup yang hidup tersebar di kawasan Afrika Utara, mulai dari oasis Siwa di Mesir, sepanjang garis pantai
Mediterania, Gunung Atlas di Maroko, di sepanjang sungai Niger, hingga di
Kepulauan Canary. Keberadaan mereka ditemukan sebelum
kedatangan orang-orang Arab di wilayah tersebut. Pasca penaklukan oleh Arab
yang membawa Islam, proses asimilasi dan akulturasi kebudayaan dimulai.
Masyarakat Berber berduyun-duyun masuk Islam dan mulai mengadopsi Bahasa Arab
menggantikan dialek lokal mereka. Orang Berber-Islam bahkan sempat mendirikan
dinasti Islam Al-Moravid dan Al-Mohed yang memerintah dari daerah Maghrib (Maroko)
hingga Semenanjung Iberia (Portugal) dan Andalusia (Spanyol).
Di
era post-kolonial, pemimpin yang berkuasa di wilayah tersebut memproklamirkan
negara mereka sebagai negara Arab dan hanya mengakui Bahasa Arab sebagai
satu-satunya bahasa resmi negara. Identitas Berber semakin terpinggirkan. Di
Libya, Pemerintahan Khadafi melarang menggunakan Bahasa Berber atau memberi
nama anak dengan nama Berber. Di Maroko,
identitas Berber tidak pernah diakui oleh pemerintah, kendati mayoritas
orang Maroko beretnis Berber. Sementara di Aljazair terjadi bentrokan hebat
antara kalangan Islamis yang berasosiasi kepada Arab dan kelompok masyarakat
yang menuntut pengakuan pemerintah atas warisan kebudayaan mereka.
Laju
Globalisasi 2 dekade terakhir membawa angin segar bagi para aktivis
Berber. Perkembangan teknologi
informasi, khususnya internet membuat mereka leluasa menyebarkan pesan-pesan
mereka ke seluruh dunia. Para aktivis tersebut menyatakan bahwa identitas
mereka bukanlah Arab seperti yang selama ini banyak disangka. Mereka juga
mempromosikan budaya Berber dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui
situs-situs internet. Sebelum era teknologi global, identitas Berber masih
menjadi urusan internal masing-masing negara, dalam artian komunitas Berber di
Maroko tidak mengenal ‘saudara’ mereka di Aljazair, Libya, Tunisia, atau Mali.
Mereka terkotak-kotakkan menjadi sub grup yang terpencar-pencar (seperti
Riffians, Shluh, Tuareg, dan Kabyle) dan tidak memiliki signifikansi terhadap
komunitas Berber lainnya.
Pandangan
umum yang beredar adalah bahwa globalisasi membawa dampak negatif mengabaikan
dan menekan budaya lokal hingga titik terendah.
Akan tetapi tulisan ini mencoba menampilkan efek positif dari booming-nya
globalisasasi terhadap kemunculan kembali budaya lokal yang telah lama
terpinggirkan. Apakah identitas lokal Berber dapat bangkit kembali di era
globalisasi sekarang ini? Ataukah ia tetap pada posisinya semula, terpinggirkan
oleh dominasi penguasa Arab?
Kajian
Teoritik
Castells
(1997) merumuskan identitas sebagai sumber makna dan pengalaman seseorang atau
kelompok masyarakat. Identitas digunakan sebagai batas pembeda antara diri (self)
dengan yang lain (others). Proses pembangunan identitas bersumber dari
pengalaman aktor (individu/masyarakat) dalam memaknai atribut cultural yang
berbeda dengan orang lain untuk kemudian diinstitusionalkan melalui sebuah
lembaga resmi yang berkuasa. Castells (1997) membagi bentuk dan asal dari
identitas menjadi 3 macam; (1) Legitimizing identity; adalah identitas
yang diperkenalkan oleh institusi dominan dalam masyarakat untuk melebarkan dan
merasionalisasikan dominasi mereka atas aktor social lainnya. (2) Resistance
Identity yang dibawa oleh aktor sosial yang selama ini posisinya mendapat
stigma negatif dari penguasa dan dimarjinalkan. Mereka memunculkan identitas
yang berbeda dengan penguasa sebagai wujud perlawanan atas dominasi yang
dipraktekkan penguasa. (3) Project Identity yang digunakan para aktor
sosial untuk membentuk identitas baru demi menunjukkan posisi mereka di tengah
masyarakat. Project Identity dikenal sebagai aktor perubahan sosial yang
menginginkan transformasi struktur sosial dalam masyarakat ke arah yang mereka
anggap ideal.
Dalam
kasus Amazigh ini, dapat dianggap sebagai wujud identitas dalam bentuknya yang
kedua dalam teori diatas. Menurut formulasi Etzioni (1993 dalam Castells 1997) resistence
identity adalah bentuk identitas yang paling jamak ditemui saat ini.
Identitas ini terbentuk oleh kesamaan letak geografis, sejarah, atau keturunan
genetis yang telah eksis sejak lama.
Dominasi pihak penguasalah yang membuat identitas mereka terpinggirkan. Jadi,
identitas ini dibentuk sebagai moda perlawanan atas tekanan yang diberikan
penguasa. Mereka bersikukuh menolak identitas yang diberikan penguasa dan
mencoba memunculkan identitas yang berbeda. Dalam bahasa Castells (1997)
dikatakan, the exclusion of the excluders by the excluded.
Pembahasan
Sebagaimana
dinyatakan oleh Giddens (1991 dalam Castells 1997) bahwa periode akhir
modernitas (late modernity) ditandai oleh munculnya globalisasi yang
membawa implikasi meningkatnya interkoneksi antara 2 keadaan ekstrim,
intensionalitas dan ekstensionalitas yang menjadikannya titik sentral dari
pembangunan identitas diri (self-identity). Dialektika antara tradisi
lokal dengan pandangan global memunculkan dua efek sekaligus, negatif dan
positif. Untuk efek yang pertama, pandangan global dituding sebagai tersangka
utama penyebab lunturnya nilai-nilai tradisional. Sedangkan untuk efek positif,
globalisasi berperan sebagai instrument penyampai pesan masyarakat lokal yang
selama ini terpinggirkan. Dengan hadirnya globalisasi, eksistensi budaya lokal,
dengan segenap tradisi, budaya, bahasa dan kepercayaannya dapat dikenal lebih
luas oleh komunitas internasional.
Dalam
kasus Maroko, dengan jumlah populasi komunitas Berber yang mencapai 60%(dikenal
juga dengan nama Amazigh atau Imazighen yang berarti orang merdeka) telah sekian lama melakukan diskriminasi
terhadap tradisi yang telah eksis sejak masa sebelum kedatangan Islam (Sadiqi
1997 dalam Almasude 1999). Maroko didominasi budaya Arab sejak abad ke-7 ketika
penaklukkan bangsa Arab mencapai Afrika Timur dan Utara atas nama Islam. Sejak
itu, tradisi dan budaya Amazigh terpinggirkan oleh proyek Arabisasi yang
dicanangkan penguasa. Masyarakat yang masih menggunakan Amazigh sebagai bahasa
komunikasi sehari-hari terdesak ke daerah-daerah pinggiran dan pegunungan
(kecuali Marakesh yang memiliki populasi etnis Berber dalam jumlah besar).
Sedangkan di wilayah perkotaan didominasi oleh unsur budaya dan Bahasa Arab.
Sepanjang
perjalanan sejarahnya setelah penaklukan Islam, identitas Berber semakin termarjinalkan.
Proses akulturasi yang berlangsung hampir di semua lini kehidupan membuat sebagian
masyarakat Berber amnesia tentang identitas mereka sendiri. Mereka lebih merasa
bagian dari bangsa Arab ketimbang masyarakat tribal di Afrika. Perkembangan
selanjutnya, kata Berber identik dengan masyarakat pinggiran kelas dua yang tak
tersentuh modernitas dan masih memegang nilai-nilai tradisional; hidup nomaden
di padang pasir, mengenakan pakaian jubah tradisional, dan anti kemajuan.
Sesaat
setelah kemerdekaan, konstitusi Maroko mendeklarasikan Maroko sebagai bagian
dari dunia Arab dan mengumumkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi menggantikan
kedudukan Bahasa Perancis (Put 2011). Hasilnya, Tamazight (Bahasa Amazigh)
tersingkir dan etnis Amazigh Maroko yang tidak mengerti Bahasa Arab harus
mempelajari bahasa tersebut di sekolah atau universitas. Para penutur Amazigh
tidak mendapatkan kesempatan belajar bahasa mereka di negara mereka sendiri.
Hal inilah yang menjadi salah satu factor tingginya angka buta huruf di Maroko
(mencapai 50% dari total populasi), sebab mereka diwajibkan menggunakan bahasa
Arab yang merupakan bahasa asing dalam benak mereka (Smith 2009). Seringkali ditemukan kasus
anak sekolah terpaksa Drop Out dari sekolahnya lantaran tidak mengerti
apa yang dikatakan gurunya.
Selain
itu, pemerintah Maroko juga melarang pemberian nama Amazigh seperti Jugurtha
dan Messina (nama raja Berber kuno) kepada anak-anak Maroko, dan hanya nama
Arab seperti Ahmed atau Hassan saja yang diperkenankan. Langkah tersebut juga
diikuti oleh keharusan penulisan dokumen resmi menggunakan Bahasa Arab dan penyiaran
program televisi yang menampilkan Bahasa Arab dan Perancis. Kebijakan-kebijakan
tersebut semakin meminggirkan eksistensi identitas Amazigh di tanah mereka
sendiri. “Lebih dari 40 tahun setelah merdeka dari Perancis, pemerintah masih
enggan mengajarkan bahasa Amazigh, memelihara atau mempromosikan kebudayaannya”
kata Ahmed Lachgar Agwilal, Perwakilan Komisi Amazigh untuk Pengembangan dan
Hak Asasi Manusia di Amerika. (www.sfgate.com
2001)
Globalisasi
dan Pengaruhnya terhadap Kebangkitan Kembali Identitas Amazigh
Dengan semakin
berkembangnya teknologi internet pada tahun 1990-an, serta banyaknya etnis
Amazigh yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Barat, etnis Amazigh
mendapatkan kesempatan lebih luas untuk menunjukkan eksistensi mereka ke
masyarakat internasional. Pada tahun 1992 misalnya, terbentuk komunitas Amazigh
yang menjadikan mailist Amazigh-net sebagai wadah menyalurkan aspirasi mereka
(Bouzida 1994 dalam Almasude 1999). Dari pendirian jaringan online
pertama yang mengangkat isu Amazigh tersebut, bermunculan kemudian banyak situs
sejenis yang mengakomodir ide-ide dan aspirasi masyarakat Amazigh agar mendapat
perhatian lebih dari pemerintah Maroko. Situs-situs seperti http://www.temehu.com, http://www.berber-cultural-center.fr.gd, http://www.cmamazigh.com/, http://www.amazighworld.org, http://www.mondeberbere.com/
dapat menjadi media efektif penyalur aspirasi perjuangan komunitas Amazigh.
Melalui internet pula, komunitas Amazigh menjadi
mengenal ‘saudara’ mereka di berbagai negara seperti, Mali, Tunisia, Mesir,
Libya, Aljazair, dan orang Amazigh yang hidup diantara masyarakat Barat seperti
di Perancis, Inggris dan Amerika. Isu Amazigh yang semula dianggap sebagai
sentimen lokal di masing-masing negara, melalui media internet terangkat
menjadi isu internasional. Pertengahan 1990-an, untuk pertama kalinya
dikembangkan software komputer yang menampilkan abjad Tifinagh, jenis
tulisan yang dipakai dalam Bahasa Amazigh.
Tahun 1993 digelar pertemuan pertama
National Coordination of Amazigh Associations, sebuah wadah perkumpulan
budaya dan politik Amazigh di Maroko. Setahun berikutnya, delegasi masyarakat
Berber menghadiri pertemuan tahunan yang diselenggarakan United Nations
Working Group on Indigenous Peoples di Jenewa, Swiss. Dengan mengikuti
pertemuan tersebut, berarti eksistensi Berber sebagai masyarakat pribumi diakui
oleh PBB. Dengan pengakuan tersebut, memungkinkan komunitas Berber mendapatkan
hak-hak dasar seperti yang diatur dalam konvensi PBB, termasuk hak menggunakan
bahasa mereka dan hak mendapatkan perlakuan yang sama dengan etnis grup yang
lain.
Perjuangan
masyarakat Amazigh Maroko menuntut pengakuan identitas mereka sedikit demi
sedikit mulai membuahkan hasil. Musim panas 1994, Raja Maroko saat itu, Hassan
II mengumumkan pengakuan kebudayaan dan bahasa Amazigh sebagai identitas
nasional Maroko. Dalam pidatonya, Raja Hassan II mengatakan pentingnya
mengintegrasikan Thmazight dalam kurikulum sekolah (Ennaji 1997 dalam Almasude
1999). Kebijakan tersebut kemudian diikuti mengudaranya program televisi
pertama yang mengudara menggunakan Tamazight di TV Nasional Maroko. Setelah
momen tersebut asosiasi, organisasi massa, program televisi dan radio, koran,
majalah, serta situs-situs yang mengangkat identitas Berber semakin meningkat.
Perjuangan aktivis Berber semakin
terbuka setelah naiknya Mohammed VI menjadi raja menggantikan ayahnya, Hassan
II yang meninggal tahun 1999. Setelah naik tahta, Mohammed VI memperkenalkan
kebijakan reformasi yang salah satunya mengenai status identitas Amazigh. Dalam
program reformasi yang dicanangkannya, Mohammed VI mengijinkan pengajaran
Tamazight di sekitar 15 % sekolah dasar di Maroko. Kementrian Pendidikan Maroko
sendiri menargetkan agar pengajaran Tamazight ini diperluas ke seluruh sekolah
dasar di Maroko pada tahun 2013. Pencapaian ini kemudian juga diikuti pengakuan
Abjad Tinifagh sebagai salah satu bahasa dunia oleh International
Organization of Standardization (ISO).
Mengikuti keberhasilan Arab
Uprising 2011 yang terjadi di beberapa negara Arab, komunitas Berber di
Maroko menuntut pemerintah untuk melakukan reformasi konstitusional. Salah satu
poin tuntutan para demonstran adalah pengakuan Tamazight (Bahasa Berber)
sebagai salah satu bahasa resmi Maroko. Pemerintah mengabulkan permintaan ini
dan mencantumkan Tamazight sebagai bahasa resmi dalam konstitusi Maroko
bersama-sama dengan Bahasa Arab.
Kesimpulan
Seperti
dikatakan Giddens (1991 dalam Castells 1997) diatas, dialektika antara tradisi
lokal dan nilai-nilai global memberikan dua efek sekaligus, negatif dan
positif. Dalam kasus Maroko, pandangan global yang menekankan pentingnya
pengakuan kesetaraan bagi seluruh umat manusia dan pemenuhan hak-hak masyarakat
pribumi mendapat sambutan dari komunitas Berber yang selama ini kerap
dimarjinalkan oleh pemerintah Maroko.
Kemunculan
globalisasi yang memasuki semua lini kehidupan masyarakat kontemporer
dimanfaatkan komunitas Berber Maroko untuk menyuarakan aspirasi mereka ke dunia
internasional. Perjuangan para aktivis ini muncul sebagai wujud resistance
identity terhadap proyek Arabisasi dan diskriminasi yang dilakukan
pemerintah. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi komunitas Berber
Maroko berhasil menarik simpati masyarakat internasional untuk mengakui
eksistensi mereka. Bermodalkan dukungan dunia internasional, para aktivis ini
sukses menjadikan identitas budaya dan bahasa Berber diakui secara
konstitusional oleh pemerintah Maroko.
Daftar Pustaka
Almasude, Amar, 1999. “The New Mass Media and the Shaping
of Amazigh Identity”, dalam Jon Reyhner et, al. (ed.), 1999. Revitalizing Indigeneous People. Northern
Arizona University.
Manuel Castells, “Communal Heavens: Identity and Meaning
in the Network Society”, in The Power of Identity, Oxford: Blackwll, 1997, pp
5-67
http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/8233812.stm
